ROSITA
Mungkin aku yang sudah terlalu
bodoh. Begitu baiknya kau, saat kita berdua. Seakan-akan akulah orang yang
paling spesial bagimu. Kala senja itu, kau berkata bahwa aku ini adalah seseorang
yang selalu ada untukmu. Saat kau terluka dan Saat kau senang. Aku ini ada
untukmu. Hei, aku ini sungguhlah tulus kepadamu.
Aku sampaikan semua mimpiku
kepadamu. Lewat telepon itu, hingga jam 2 malam. Aku tertawa, bercanda bersama
kamu. Kau juga ungkapkan semua mimpi itu. Bahwa kau ingin memiliki pasangan
yang ideal. Oh aku harap itu aku. Aku ga akan kasih tau kamu bagaimana aku bisa
kenal sama kamu. Karena aku di utus oleh Poseidon untuk kenal sama kamu.
Berjanji-janji kala hari-hari libur
kita berdua. Kau rangkul aku yang membawa motor NINJA. melewati pinggiran
kota-kota ini. Melewati bangunan-bangunan kota tua. Dan hari itu hujan. Hujan
yang sangat deras. Kita berhenti di sebuah kios yang menjual minuman hangat.
Sangat pas untuk suasana kita saat ini. Sangat pas. Ku lihat dari sebelah mataku,
kau kedinginan, menggosok kedua tanganmu. Bibirmu mu pun bergetar. Pelan .
Rambutmu basah. Bajumu juga sedikit basah. Matamu terpejam. Mengingatkan ku
bahwa sungguh tenangnya ketika aku
melihatmu. Hei, kita ini baru kenal! Hujan yang dingin. Kini menjadi
hangat. Ku tawarkan kau segelas teh hangat.
Kau tak hadir. Kosong sudah kursimu.
Tak ada kau disitu yang duduk. Bukankah enak menjadi kursi itu? Aku bingung
mencarimu. Di waktu istirahat, ku tanya kepada teman mu dimana kamu. Ternyata
kamu sakit. Oh kenapa kau tak bilang?
Kini disamping mu ada aku yang
hanya bisa terduduk memandingimu yang sedang sakit. Pucat mukamu. Sangat tinggi
suhu badanmu. Hampir 30 derajat, jika aku tak salah. Ku Tanya padamu apakah kau
sudah makan? Belum jawabmu. Sudah minum obat? Belum jawabmu. Ku suapi dan ku
paksa kau untuk minum obat. Enggan kau untuk minum obat. Pahit jaka! Kau bilang
seperti itu. Baiklah aku harus sabar. Walau kau memuntahkannya tiga kali. Akhirnya
kau bisa untuk minum obat. Setelah itu kau tidur, begitu tenang, begitu nyaman.
Mungkin kau bermimpi tentang kita. Mungkin. Ku kecup rendah keningmu. “Cepat
sembuh.” Ucapku dalam hati. Kau sendiri
di rumah. Mamah dan papah mu pergi.
Hei hari ini kau sembuh. Kau masuk
sekolah, walau ku tau kau belum terlalu sembuh. Oh senyum mu itu. Kau
sunggingkan kala kita berpapasan. Kau bilang terimakasih kepadaku yang aku
balas dengan senyum. Kau melenggang meninggalkanku dengan menyisakan sedikit
aroma parfum mu. Aku terpejam sejenak, memikirkan jika aku bisa benar-benar
memilikimu. Ya secara harfiah memilikimu.
Kau berikan aku bekal kala waktu
istirahat. Bekal itu lucu. Nasi goreng, tapi kau sengaja hias dengan
tomat-tomat yang di iris berhuruf J. terimaksih ucapku. Kau tersenyum tipis.
Kau pun keluar. Aku? Aku tentu makan bekal darimu.
Malam itu kau menangis. Keras
sekali. Dan lama. Lama sekali juga. Aku sampai bosan, tapi aku bingung. Kenapa
aku masih menungguimu yang menangis. Setelah kau reda, aku bertanya mengapa.
Kau jelaskan dengan sesengukan. Sambil sekali-kali ingus mu meler. Tapi tidak
aku lap. Jijik ah. Kau kabur dari rumah. Ayah dan mamah mu bertengkar hebat malam ini.
Kau tidak kuat. Kau kabur, menyuruhku kesini malam-malam. Dengan sepeda. Di
kursi taman yang lengang. Lampu taman ini sungguh temaram. Ada delapan ekor
laron jika tidak salah, yang sedang mencari penghidupan dari sinarnya. Sungguh
kasian aku kepadamu. Keluargamu memang tidak akur. Papahmu yang punya istri dua
membuat keluargamu yang hangat menjadi tempat caci maki. Aku peluk dirimu. Kau
peluk diriku. Aku bilang kepadamu, jika semuanya akan baik saja. Ayo kita
pulang.
Di depan rumahmu. Mamahmu sedang
meringkuk ringkih. Menahan isak tangis yang tak kunjung berhenti. Kau berlari
menghampiri mamah mu. Kalian berdua menangis. Aku tidak. Papahmu keluar dari
rumah. Memakimu dan mamahmu. Aku pun ikut kena makian dari papahmu. Jangan
ganggu keluargamu lagi katanya. Padahal bukankah dia yang menjadikan keluargamu
seperti ini? Bodoh!
Siapa bilang hari ini akan jadi
seperti hari-hari biasa yang normal? Aku ga berharap tentang itu. Dan aku
meragukan itu semua. oh sungguh hebatnya hari ini. Tadi pagi kau datang dengan
tergesa-gesa. Peluh di wajahmu sungguh kentara. Kau begitu panik, mukamu
pucat-pasi. jari telunjukmu kau gigit, kebiasaan ketika dirimu panik. Kau
bilang padaku, jika papah dan mamah mu cerai. Oh, cerai, biasa aja kali. Emang
kenapa gitu kalo orangtua cerai. Cinta kalo ga bisa di pertahanin lebih baik di
lepasin aja kan? Eh, apa? cerai? Gilaaa!
Aku masih memeluk kamu. Lama sekali,
sampai kamu kayanya keenakan. Eh, ketiduran maksudnya. Kamu masih belum bisa menenerima jika orangtua kamu itu berpisah. Yah aku Cuma bisa bilang, semuanya akan
baik-baik aja, disini ada aku. Kamu di bilangin seperti itu malah nambah
nangis. Oh tidak, bajuku basah nih. Tapi yaudah lah gapapa. Sabar yah sayang.
Eh?
Akhirnya kamu lebih memilih tinggal
sama ibu. Wah bagus itu, soalnya surga ada di telapak kaki ibu. Kamu ketawa
pas aku ngomong gini. Hey, kenapa kamu ketawa? Bukannya itu bener? Kamu masih sering nangis. Sering banget.
Wajah mu yang tenang itu jadi sendu. Jadi sedih aku melihatnya. Tapi yang
penting kamu nangisnya ga sambil meluk aku. Kalo kamu nangisnya sambil meluk
aku, nanti aku yang enak.
Semakin lama, kita semakin dekat.
Dekat sekali. Aku selalu ada untukmu. Aku ga tau semenjak kapan kita bisa
sedekat ini, tapi itu bukan alasan. Terkadang cinta itu ga butuh alasan. Cinta
itu mengalir apa adanya. Bak air di sungai. Melewati batu-batu yang ada. Walau
tau susah, tapi dia tetap melewatinya. oh apakah cinta ku akan seperti itu?
Sepertinya Dewi Aphrodite tadi malam
datang ke rumahku, membawa setumpuk rasa rindu dan menyuruh Dewa Hermes untuk
menyampaikannya. Kalian Dewa yang sangat baik. Terimakasih aku sampaikan dari
lubuk hati yang paling dalam. Ketika aku bangun tidur, aku langsung rindu sama
kamu. Rindu ini menumpuk. Cinta ini sudah mulai penuh, mungkin tidak cukup
hatiku menampungnya. Harus di sampaikan. Harus!
Aku tunggu kamu seperti biasa di
depan sekolah. Kelas kita berbeda, tentunya, setiap hari aku antar jemput kamu.
Karena yah aku kan sudah berjanji akan selalu ada buat kamu. Jadi yah ini
resiko. Pernah aku tanya kamu, ga akan bosen gitu kalo di anter jemput sama aku
terus. Kamu waktu itu cuma bilang. Kalo sama aku, kamu bisa lebih tenang. Oh
itu ngebuat aku merasa naik jetpack.
Aku ga sadar, kalo makin hari kamu itu makin cantik. Aku
bilang ke kamu waktu kamu nyamperin aku, kamu lagi make baju olahraga, habis
eskul basket kata kamu lupa bawa baju ganti. Bau keringatmu sama sekali tidak
di kategorikan bau. Wangi malah. Akhirnya kita pulang. ga lupa beli makan dulu,
soalnya mamahmu ga mau masak lagi. Takut flashback katanya sih. Itu juga
kata kamu. Sudah sampai depan rumah kamu. Kamu turun dari motor ku. Aku kasih
tau nih. Motor punyaku Ninja 500 cc model baru. Sebelum kamu masuk pagar rumah
kamu. Aku bilang ke kamu kalo besok aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Hei besok
itu malam minggu. Jadi yah aku ajak kamu jalan-jalan. Kamu menyanggupinya,
sebelum obrolan berakhir aku bilang juga ke kamu. Kalo ada sesuatu yang ingin
aku omongin ke kamu. Kamu juga bilang kalo ada yang mau kamu omongin. Oh Dewi
Aphrodite. Ini bakal berhasil! Satu langkah sebelum kamu masuk ke dalam pintu
rumahmu aku teriak. “AKU RINDUUUU KAMUUUUUUU!!!” Kamu hanya tersenyum tipis.
Sambil berlalu. Oh tidak apa-apa. Cewek memang suka begitu.
Aku janjian dengan mu di sebuah
café. Café itu tidak terlalu ramai. Tapi memang café ini suasananya romantis.
Cocok lah yah menurutku. Aku janjian denganmu jam 20.00 di meja nomer 28 . kamu
bilang iyah, tapi katanya kamu gamau di jemput sama aku. Soalnya mau surprise
gitu lah kata kamu. Aku sih iya iya aja. Akhirnya aku sampai di café itu. Café
itu lengang, meski hari ini malam minggu. Kursi-kursi tersusun rapih.
Sayup-sayup terdengar lagu dari band Padi, Sobat.
Entah mengapa, mungkin Dewa Zeus
lagi berpihak kepadaku. Malam ini hujan. Tepat di jam 20.00, dua porsi kentang goreng dan dua gelas lemon tea telah terhidang di meja ku yang di bawa oleh pelayan "ganteng" cafe ini. Tidak lama akhirnya kau pun muncul. Oh tidak, matamu yang
melirik-lirik. Bingung mencari-cari kursi mana tepatnya aku berada. Kamu malam
ini memakai Dress hitam, sepatu mu flat shoes. Aku ga tau mereknya apa. Itu sungguh sangat cocok dengan mu. Malam ini
begitu spesial dan kamu, cantik.
Baru aku ingin berdiri setelah sadar
dari apa yang aku lihat. Matamu bertatapan denganku. Tepat di bulatan hitamnya.
Sangat tepat. Di saat yang bersamaan ada tangan yang merangkul pinggangmu. Kamu
tersenyum kepadaku. Aku sempat tersenyum tapi cepat aku tarik. Kamu
menghampiriku. Sedikit berlari kecil, karena aku yang ingin beranjak pergi dari
tempat duduk. Aku pergi bukan karena kamu yang jelek, kentang goreng yang udah
dingin, dan lemon tea yang dingin. Aku pergi karena, hei siapa tadi itu yang
merangkul mu. Tidak! Ini ga banget. Ini bukan novel atau cerpen-cerpen galau.
Kamu sempat menangis. Bukan sempat
sih. Tapi memang nangis. Satu tonjokan aku layangkan ke muka cowok yang
merangkulmu itu. Cowo itu sempat jatuh. Berdarah juga hidungnya. Oh jelas, aku
latihan Thifan Tsufuk. Dia membalas dengan menonjok ku. Tapi cepat aku tangkis
dan aku tendang rusuknya. Dia sedikit ingin muntah. Kamu teriak-teriak. Kamu
pukuli aku dengan liar. Cowok itu sudah tidak berdaya. Orang-orang di café itu
semuanya panik. Pelayan tadi akhirnya bisa melerai ku.
Akhirnya cowok itu pulang. Ah cemen!
Dan kamu pun berbicara serius ke aku. Kamu jelaskan bahwa cowok itu cowok baru
mu. Baru banget. Kamu pengen ngenalin dia ke aku. Kamu ngomong ke aku sambil
marah. Kamu tampar aku yang ganteng ini. Kamu bilang kalo kamu benci sama aku.
Kamu gamau kenal lagi sama aku. Kamu bilang kalo aku udah bikin malu kamu.
Kamu mau aku pergi jauh-jauh dari hidup kamu. Sampai tidak ada bekas. Hei kamu,
ga sadar apa selama ini aku selalu ada untuk kamu. Ga tau terimakasih! Dasar
hati batu!
Setelah kamu berbicara panjang
lebar, kamu pergi, tetapi sebelum kamu pergi. Aku tahan tangan kamu. Aku Cuma
bilang dua kalimat. Kalo aku itu sebenernya cinta sama kamu. Dan hari ini aku
pengen kamu jadi orang spesial buat aku. Dua kalimat kan?
Kamu diam. Jika waktu itu kamu bisa
melihat mukamu, kamu akan bersedih. Selamanya. Mukamu datar. Tak ada ekspresi
disana. Tatapan mu kosong. Kamu hanya diam, diam, dan diam. Hingga akhirnya aku
tahu bahwa diam mu itu adalah sebuah penolakan. Bukan berarti kamu setuju. Aku
kira kalung huruf B yang selalu kau pakai itu untuk seorang yang spesial yang
bernama Jaka Bagja. Itu namaku. Tetapi akhirnya aku tau. Itu adalah Bagas. Dan
aku ga kenal dia. Sungguh aku ga pernah mau kamu kenal dengan dia.
“Mas, cafenya udah mau tutup.
Dilanjut besok aja yah kalo masih mau disini. Hehe.” Pelayan café menegur ku.
Menyadarkan ku untuk bayar. Eh bukan, untuk pergi maksudnya. Soalnya ini café
akan segera tutup. Aku menyetujuinya dan bergegas beranjak dari kursiku. Aku
melihat ke sekitar cafe. Sudah 28 hari semenjak hari itu. Aku selalu ke café
ini tepat jam 20.00. Melamun. Mengingat semua hal yang sudah aku lakukan untuk
dia. Dan anehnya ketika aku ke café ini suasanya selalu sama. Hujan dan lagu
Padi, Sobat. Aku menyesali semuanya. Aku masih bisa merasakan setiap aku
berpelukan dengannya. Ah semuanya terasa indah. Tetapi, kenapa harus begini
jadinya? Pastilah akan berbeda ceritanya jika kamu waktu itu ga sama cowok itu. Akupun
mengelap air mata yang udah kering dan jadi belek. betapa bodohnya aku.
Menangisi cewek yang bisanya cuma memperalat. Dan setelah kejadian itu pula kamu sudah tidak
ada lagi di sekolah. Bodo amat. Dan semua hubungan denganmu. Terputus. lebih
tepatnya, kamu MENGHILANG.
Okelah, mungkin besok aku akan ke
café ini, mengenang lagi masa-masa itu. Dan hey, kamu tidak tau kan. Mengenang
dikala hujan itu sungguhlah indah. Ketika suara isak tangismu tertelan oleh
gemerisiknya. Tetes-tetesnya itu membawa kembali kenangan lama. Setiap kenangan
yang ada. Itu semua menjadi sangat nyata. Sungguh sangat nyata. Sampai-sampai
kau bisa menggenggamnya. Tapi sampai kapanpun. Kau tak akan mendapatkannya.
Tidak akan.
Aku berjalan gontai, menuju kasir.
Pastinya ingin bayar. Kalo kabur. Jadinya di kejar, atau dibakar? Yah jangan
sampai. Ku lewati kursi-kursi yang ada, aku ikut membantu pelayan-pelayan
membereskan kursi yang masih berantakan. Mulia kan? Tetapi, ketika aku
membereskan kursi, pandangan ku terhenti kepada seorang wanita yang berada di
ujung meja di café itu. Ia duduk takzim menatap jendela. Dan sepertinya tak
bisa di ganggu. Aku tanyakan kepada pelayan yang ada disitu tentang cewek itu.
“mas mbak itu juga kayak mas, tiap hari datang kesini. Tapi bedanya mbak itu
mah pulangnya nanti jam 11 malem.” Wah aku baru sadar jika ada juga yang suka ngelamun di café ini. Aku coba untuk menghampirinya.
Sedikit gugup sih. Tapi akhirnya aku beranikan diri untuk menyapanya siapa tau aku
bisa dekat dengan dia. Kelihatannya sih cantik. Sebelum aku sampai di tempatnya
aku balik lagi ke pelayan. Dan bertanya, kenapa dia selalu disini. “kata si
mbak itu sih karena nama café ini, sama kaya namanya. ROSITA”. “Apa? Rosita? mas ga becanda kan?” mas itu
menggeleng. Dan bersumpah atas nama Tuhan. Kalo dia lagi ga bercanda. Selera
humornya jelek sih.
Aku pun berjalan cepat ke arahnya.
Aku ingin tau siapa dia. Apakah benar namanya Rosita? Jika iya. Itu gawat.
Ketika aku berjalan cepat ke arahnya, tinggal dua langkah lagi sampai. Tetapi
aku pun terjatuh. Terpeleset lebih tepatnya. Dan dari bawah aku bisa melihat
wajahnya. Dan ternyata…
KANGEBEM.
Sabtu, 29. Januari. 2016
Di
tulis dengan bahasa seadanya dan cerita yang sangat klasik.
|
Semoga
Terhibur, SANTRI!

0 komentar:
Posting Komentar