Rembulan Dalam Gelap

Blog ini hanyalah berupa kata-kata dari penulis dengan nama pena KANGEBEM yang di tulis kala waktu galaunya. Kalo gak galau sih katanya ga bisa buat kata-kata.

ROSITA

            Mungkin aku yang sudah terlalu bodoh. Begitu baiknya kau, saat kita berdua. Seakan-akan akulah orang yang paling spesial bagimu. Kala senja itu, kau berkata bahwa aku ini adalah seseorang yang selalu ada untukmu. Saat kau terluka dan Saat kau senang. Aku ini ada untukmu. Hei, aku ini sungguhlah tulus kepadamu.

            Aku sampaikan semua mimpiku kepadamu. Lewat telepon itu, hingga jam 2 malam. Aku tertawa, bercanda bersama kamu. Kau juga ungkapkan semua mimpi itu. Bahwa kau ingin memiliki pasangan yang ideal. Oh aku harap itu aku. Aku ga akan kasih tau kamu bagaimana aku bisa kenal sama kamu. Karena aku di utus oleh Poseidon untuk kenal sama kamu.

            Berjanji-janji kala hari-hari libur kita berdua. Kau rangkul aku yang membawa motor NINJA. melewati pinggiran kota-kota ini. Melewati bangunan-bangunan kota tua. Dan hari itu hujan. Hujan yang sangat deras. Kita berhenti di sebuah kios yang menjual minuman hangat. Sangat pas untuk suasana kita saat ini. Sangat pas. Ku lihat dari sebelah mataku, kau kedinginan, menggosok kedua tanganmu. Bibirmu mu pun bergetar. Pelan . Rambutmu basah. Bajumu juga sedikit basah. Matamu terpejam. Mengingatkan ku bahwa sungguh tenangnya ketika aku  melihatmu. Hei, kita ini baru kenal! Hujan yang dingin. Kini menjadi hangat. Ku tawarkan kau segelas teh hangat.

            Kau tak hadir. Kosong sudah kursimu. Tak ada kau disitu yang duduk. Bukankah enak menjadi kursi itu? Aku bingung mencarimu. Di waktu istirahat, ku tanya kepada teman mu dimana kamu. Ternyata kamu sakit. Oh kenapa kau tak bilang?

            Kini disamping mu ada aku yang hanya bisa terduduk memandingimu yang sedang sakit. Pucat mukamu. Sangat tinggi suhu badanmu. Hampir 30 derajat, jika aku tak salah. Ku Tanya padamu apakah kau sudah makan? Belum jawabmu. Sudah minum obat? Belum jawabmu. Ku suapi dan ku paksa kau untuk minum obat. Enggan kau untuk minum obat. Pahit jaka! Kau bilang seperti itu. Baiklah aku harus sabar. Walau kau memuntahkannya tiga kali. Akhirnya kau bisa untuk minum obat. Setelah itu kau tidur, begitu tenang, begitu nyaman. Mungkin kau bermimpi tentang kita. Mungkin. Ku kecup rendah keningmu. “Cepat sembuh.”  Ucapku dalam hati. Kau sendiri di rumah. Mamah dan papah mu pergi.

            Hei hari ini kau sembuh. Kau masuk sekolah, walau ku tau kau belum terlalu sembuh. Oh senyum mu itu. Kau sunggingkan kala kita berpapasan. Kau bilang terimakasih kepadaku yang aku balas dengan senyum. Kau melenggang meninggalkanku dengan menyisakan sedikit aroma parfum mu. Aku terpejam sejenak, memikirkan jika aku bisa benar-benar memilikimu. Ya secara harfiah memilikimu.

            Kau berikan aku bekal kala waktu istirahat. Bekal itu lucu. Nasi goreng, tapi kau sengaja hias dengan tomat-tomat yang di iris berhuruf J. terimaksih ucapku. Kau tersenyum tipis. Kau pun keluar. Aku? Aku tentu makan bekal darimu.

            Malam itu kau menangis. Keras sekali. Dan lama. Lama sekali juga. Aku sampai bosan, tapi aku bingung. Kenapa aku masih menungguimu yang menangis. Setelah kau reda, aku bertanya mengapa. Kau jelaskan dengan sesengukan. Sambil sekali-kali ingus mu meler. Tapi tidak aku lap. Jijik ah. Kau kabur dari rumah. Ayah dan mamah mu bertengkar hebat malam ini. Kau tidak kuat. Kau kabur, menyuruhku kesini malam-malam. Dengan sepeda. Di kursi taman yang lengang. Lampu taman ini sungguh temaram. Ada delapan ekor laron jika tidak salah, yang sedang mencari penghidupan dari sinarnya. Sungguh kasian aku kepadamu. Keluargamu memang tidak akur. Papahmu yang punya istri dua membuat keluargamu yang hangat menjadi tempat caci maki. Aku peluk dirimu. Kau peluk diriku. Aku bilang kepadamu, jika semuanya akan baik saja. Ayo kita pulang.

            Di depan rumahmu. Mamahmu sedang meringkuk ringkih. Menahan isak tangis yang tak kunjung berhenti. Kau berlari menghampiri mamah mu. Kalian berdua menangis. Aku tidak. Papahmu keluar dari rumah. Memakimu dan mamahmu. Aku pun ikut kena makian dari papahmu. Jangan ganggu keluargamu lagi katanya. Padahal bukankah dia yang menjadikan keluargamu seperti ini? Bodoh!

            Siapa bilang hari ini akan jadi seperti hari-hari biasa yang normal? Aku ga berharap tentang itu. Dan aku meragukan itu semua. oh sungguh hebatnya hari ini. Tadi pagi kau datang dengan tergesa-gesa. Peluh di wajahmu sungguh kentara. Kau begitu panik, mukamu pucat-pasi. jari telunjukmu kau gigit, kebiasaan ketika dirimu panik. Kau bilang padaku, jika papah dan mamah mu cerai. Oh, cerai, biasa aja kali. Emang kenapa gitu kalo orangtua cerai. Cinta kalo ga bisa di pertahanin lebih baik di lepasin aja kan? Eh, apa? cerai? Gilaaa!

            Aku masih memeluk kamu. Lama sekali, sampai kamu kayanya keenakan. Eh, ketiduran maksudnya. Kamu masih belum bisa menenerima jika orangtua kamu itu berpisah. Yah aku Cuma bisa bilang, semuanya akan baik-baik aja, disini ada aku. Kamu di bilangin seperti itu malah nambah nangis. Oh tidak, bajuku basah nih. Tapi yaudah lah gapapa. Sabar yah sayang. Eh?

            Akhirnya kamu lebih memilih tinggal sama ibu. Wah bagus itu, soalnya surga ada di telapak kaki ibu. Kamu ketawa pas aku ngomong gini. Hey, kenapa kamu ketawa? Bukannya itu bener?  Kamu masih sering nangis. Sering banget. Wajah mu yang tenang itu jadi sendu. Jadi sedih aku melihatnya. Tapi yang penting kamu nangisnya ga sambil meluk aku. Kalo kamu nangisnya sambil meluk aku, nanti aku yang enak.

            Semakin lama, kita semakin dekat. Dekat sekali. Aku selalu ada untukmu. Aku ga tau semenjak kapan kita bisa sedekat ini, tapi itu bukan alasan. Terkadang cinta itu ga butuh alasan. Cinta itu mengalir apa adanya. Bak air di sungai. Melewati batu-batu yang ada. Walau tau susah, tapi dia tetap melewatinya. oh apakah cinta ku akan seperti itu?

            Sepertinya Dewi Aphrodite tadi malam datang ke rumahku, membawa setumpuk rasa rindu dan menyuruh Dewa Hermes untuk menyampaikannya. Kalian Dewa yang sangat baik. Terimakasih aku sampaikan dari lubuk hati yang paling dalam. Ketika aku bangun tidur, aku langsung rindu sama kamu. Rindu ini menumpuk. Cinta ini sudah mulai penuh, mungkin tidak cukup hatiku menampungnya. Harus di sampaikan. Harus!
           
            Aku tunggu kamu seperti biasa di depan sekolah. Kelas kita berbeda, tentunya, setiap hari aku antar jemput kamu. Karena yah aku kan sudah berjanji akan selalu ada buat kamu. Jadi yah ini resiko. Pernah aku tanya kamu, ga akan bosen gitu kalo di anter jemput sama aku terus. Kamu waktu itu cuma bilang. Kalo sama aku, kamu bisa lebih tenang. Oh itu ngebuat aku merasa naik jetpack.

Aku ga sadar, kalo makin hari kamu itu makin cantik. Aku bilang ke kamu waktu kamu nyamperin aku, kamu lagi make baju olahraga, habis eskul basket kata kamu lupa bawa baju ganti. Bau keringatmu sama sekali tidak di kategorikan bau. Wangi malah. Akhirnya kita pulang. ga lupa beli makan dulu, soalnya mamahmu ga mau masak lagi. Takut flashback katanya sih. Itu juga kata kamu. Sudah sampai depan rumah kamu. Kamu turun dari motor ku. Aku kasih tau nih. Motor punyaku Ninja 500 cc model baru. Sebelum kamu masuk pagar rumah kamu. Aku bilang ke kamu kalo besok aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Hei besok itu malam minggu. Jadi yah aku ajak kamu jalan-jalan. Kamu menyanggupinya, sebelum obrolan berakhir aku bilang juga ke kamu. Kalo ada sesuatu yang ingin aku omongin ke kamu. Kamu juga bilang kalo ada yang mau kamu omongin. Oh Dewi Aphrodite. Ini bakal berhasil! Satu langkah sebelum kamu masuk ke dalam pintu rumahmu aku teriak. “AKU RINDUUUU KAMUUUUUUU!!!” Kamu hanya tersenyum tipis. Sambil berlalu. Oh tidak apa-apa. Cewek memang suka begitu.
           
            Aku janjian dengan mu di sebuah café. Café itu tidak terlalu ramai. Tapi memang café ini suasananya romantis. Cocok lah yah menurutku. Aku janjian denganmu jam 20.00 di meja nomer 28 . kamu bilang iyah, tapi katanya kamu gamau di jemput sama aku. Soalnya mau surprise gitu lah kata kamu. Aku sih iya iya aja. Akhirnya aku sampai di café itu. Café itu lengang, meski hari ini malam minggu. Kursi-kursi tersusun rapih. Sayup-sayup terdengar lagu dari band Padi, Sobat.
           
            Entah mengapa, mungkin Dewa Zeus lagi berpihak kepadaku. Malam ini hujan. Tepat di jam 20.00, dua porsi kentang goreng dan dua gelas lemon tea telah terhidang di meja ku yang di bawa oleh pelayan "ganteng" cafe ini. Tidak lama akhirnya kau pun muncul. Oh tidak, matamu yang melirik-lirik. Bingung mencari-cari kursi mana tepatnya aku berada. Kamu malam ini memakai Dress hitam, sepatu mu flat shoes. Aku ga tau mereknya apa.  Itu sungguh sangat cocok dengan mu. Malam ini begitu spesial dan kamu, cantik. 
           
            Baru aku ingin berdiri setelah sadar dari apa yang aku lihat. Matamu bertatapan denganku. Tepat di bulatan hitamnya. Sangat tepat. Di saat yang bersamaan ada tangan yang merangkul pinggangmu. Kamu tersenyum kepadaku. Aku sempat tersenyum tapi cepat aku tarik. Kamu menghampiriku. Sedikit berlari kecil, karena aku yang ingin beranjak pergi dari tempat duduk. Aku pergi bukan karena kamu yang jelek, kentang goreng yang udah dingin, dan lemon tea yang dingin. Aku pergi karena, hei siapa tadi itu yang merangkul mu. Tidak! Ini ga banget. Ini bukan novel atau cerpen-cerpen galau.  
           
            Kamu sempat menangis. Bukan sempat sih. Tapi memang nangis. Satu tonjokan aku layangkan ke muka cowok yang merangkulmu itu. Cowo itu sempat jatuh. Berdarah juga hidungnya. Oh jelas, aku latihan Thifan Tsufuk. Dia membalas dengan menonjok ku. Tapi cepat aku tangkis dan aku tendang rusuknya. Dia sedikit ingin muntah. Kamu teriak-teriak. Kamu pukuli aku dengan liar. Cowok itu sudah tidak berdaya. Orang-orang di café itu semuanya panik. Pelayan tadi akhirnya bisa melerai ku.
           
            Akhirnya cowok itu pulang. Ah cemen! Dan kamu pun berbicara serius ke aku. Kamu jelaskan bahwa cowok itu cowok baru mu. Baru banget. Kamu pengen ngenalin dia ke aku. Kamu ngomong ke aku sambil marah. Kamu tampar aku yang ganteng ini. Kamu bilang kalo kamu benci sama aku. Kamu gamau kenal lagi sama aku. Kamu bilang kalo aku udah bikin malu kamu. Kamu mau aku pergi jauh-jauh dari hidup kamu. Sampai tidak ada bekas. Hei kamu, ga sadar apa selama ini aku selalu ada untuk kamu. Ga tau terimakasih! Dasar hati batu!
           
            Setelah kamu berbicara panjang lebar, kamu pergi, tetapi sebelum kamu pergi. Aku tahan tangan kamu. Aku Cuma bilang dua kalimat. Kalo aku itu sebenernya cinta sama kamu. Dan hari ini aku pengen kamu jadi orang spesial buat aku. Dua kalimat kan?

            Kamu diam. Jika waktu itu kamu bisa melihat mukamu, kamu akan bersedih. Selamanya. Mukamu datar. Tak ada ekspresi disana. Tatapan mu kosong. Kamu hanya diam, diam, dan diam. Hingga akhirnya aku tahu bahwa diam mu itu adalah sebuah penolakan. Bukan berarti kamu setuju. Aku kira kalung huruf B yang selalu kau pakai itu untuk seorang yang spesial yang bernama Jaka Bagja. Itu namaku. Tetapi akhirnya aku tau. Itu adalah Bagas. Dan aku ga kenal dia. Sungguh aku ga pernah mau kamu kenal dengan dia.  
           
            “Mas, cafenya udah mau tutup. Dilanjut besok aja yah kalo masih mau disini. Hehe.” Pelayan café menegur ku. Menyadarkan ku untuk bayar. Eh bukan, untuk pergi maksudnya. Soalnya ini café akan segera tutup. Aku menyetujuinya dan bergegas beranjak dari kursiku. Aku melihat ke sekitar cafe. Sudah 28 hari semenjak hari itu. Aku selalu ke café ini tepat jam 20.00. Melamun. Mengingat semua hal yang sudah aku lakukan untuk dia. Dan anehnya ketika aku ke café ini suasanya selalu sama. Hujan dan lagu Padi, Sobat. Aku menyesali semuanya. Aku masih bisa merasakan setiap aku berpelukan dengannya. Ah semuanya terasa indah. Tetapi, kenapa harus begini jadinya? Pastilah akan berbeda ceritanya jika kamu waktu itu ga sama cowok itu. Akupun mengelap air mata yang udah kering dan jadi belek. betapa bodohnya aku. Menangisi cewek yang bisanya cuma memperalat.  Dan setelah kejadian itu pula kamu sudah tidak ada lagi di sekolah. Bodo amat. Dan semua hubungan denganmu. Terputus. lebih tepatnya, kamu MENGHILANG.
           
            Okelah, mungkin besok aku akan ke café ini, mengenang lagi masa-masa itu. Dan hey, kamu tidak tau kan. Mengenang dikala hujan itu sungguhlah indah. Ketika suara isak tangismu tertelan oleh gemerisiknya. Tetes-tetesnya itu membawa kembali kenangan lama. Setiap kenangan yang ada. Itu semua menjadi sangat nyata. Sungguh sangat nyata. Sampai-sampai kau bisa menggenggamnya. Tapi sampai kapanpun. Kau tak akan mendapatkannya. Tidak akan.
           
            Aku berjalan gontai, menuju kasir. Pastinya ingin bayar. Kalo kabur. Jadinya di kejar, atau dibakar? Yah jangan sampai. Ku lewati kursi-kursi yang ada, aku ikut membantu pelayan-pelayan membereskan kursi yang masih berantakan. Mulia kan? Tetapi, ketika aku membereskan kursi, pandangan ku terhenti kepada seorang wanita yang berada di ujung meja di café itu. Ia duduk takzim menatap jendela. Dan sepertinya tak bisa di ganggu. Aku tanyakan kepada pelayan yang ada disitu tentang cewek itu. “mas mbak itu juga kayak mas, tiap hari datang kesini. Tapi bedanya mbak itu mah pulangnya nanti jam 11 malem.” Wah aku baru sadar jika ada juga yang  suka ngelamun di café ini. Aku coba untuk menghampirinya. Sedikit gugup sih. Tapi akhirnya aku beranikan diri untuk menyapanya siapa tau aku bisa dekat dengan dia. Kelihatannya sih cantik. Sebelum aku sampai di tempatnya aku balik lagi ke pelayan. Dan bertanya, kenapa dia selalu disini. “kata si mbak itu sih karena nama café ini, sama kaya namanya. ROSITA”.  “Apa? Rosita? mas ga becanda kan?” mas itu menggeleng. Dan bersumpah atas nama Tuhan. Kalo dia lagi ga bercanda. Selera humornya jelek sih.
           
            Aku pun berjalan cepat ke arahnya. Aku ingin tau siapa dia. Apakah benar namanya Rosita? Jika iya. Itu gawat. Ketika aku berjalan cepat ke arahnya, tinggal dua langkah lagi sampai. Tetapi aku pun terjatuh. Terpeleset lebih tepatnya. Dan dari bawah aku bisa melihat wajahnya. Dan ternyata…

KANGEBEM. Sabtu, 29. Januari. 2016
Di tulis dengan bahasa seadanya dan cerita yang sangat klasik.


*Aphrodite: Dewi Cinta, Hermes: Dewa   Pengantar Pesan, Zeus: Raja Para Dewa (Dewa Petir) Poseidon: Dewa Laut( Dewa Air)

 
Semoga Terhibur, SANTRI!

Rindu tak berujung.
Ihwal mimpi, yang terbayang.
Antara Realitas. dan
Nyatanya gelagat malam.
Anak dari Bulan.

Haruskah aku diam? dan terjengkal oleh
Ilusi yang menohok hati? Harap pada
Kata. yang
Murahan!
Ajek pun dengan nya...!
Habis sudah pun Pengharapan.

Potret kita jadikan
Revalitas.
Angkasa. Raya-
Terbuat karena lintasan Rindu, hanya jadi
Ingatan. yang akan terkremasi oleh bara bara setan!
Widuri oh Widuri!!!!
Ini aku, Orang yg rindu-

kangebem, 2016








Di atas sana berdiri keangkuhan.
Gultor samawi yg di idam idamkan..
Perentasan kekuatan di adukan...
sebagai jawab, atas kekuatan setan....

oh, oh,
cihalo kala,,
bertudung kaku pada jimat kstria,,,
Berturut tutur kuhentak hentak kotak pandora,,,,

Sebagai jawab-
tentang tugas,
Jalan sang Mulia.

@kangebem, 2016

Waktu dalam dimensi ini
Tak lagi sama.
Berlambat ia masuk
menerobos ruang.
yang tertahan oleh,
sepucuk surat yang di tinggalkan.

Berjalan jauh ia.
Tertembus di dalam pusaran awan.
yang di bayang bayang
godan.

Biarkan ini
terasa hening sebentar.
Agar malam-malam berlalu
dengan Mata yang
basah dengan kenangan.

hah!

dia lupa.
lupa
dan lupa!

Bahwa ia,
meninggalkan seribu harapan.

Pada Perempuan,
yang selalu merindukan-

@kangebem,2016

PUISI DAN SAJAK

Blog ini berisikan kumpulan puisi dan sajak dari seseorang manusia galau yang dimana kegalauan dia itu di tuangkan dalam karya-karya puisi dan sajak. Nama pena si penulis ini kangebem. semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat buat para pembaca semua. selamat bergalau-galu wkwkwk

KANGEBEM

Foto saya
My name is Raka Bagas Maulana, as known as kangebem. i'm just human being who looking for the turth about myself and i like mcdonald
Diberdayakan oleh Blogger.