Rembulan Dalam Gelap

Blog ini hanyalah berupa kata-kata dari penulis dengan nama pena KANGEBEM yang di tulis kala waktu galaunya. Kalo gak galau sih katanya ga bisa buat kata-kata.

Saya bukanlah seorang pemikir

Saya juga bukanlah seorang pemimpin
Apakah pantas seorang pemikir dan pemimpin,
berakhlak seperti saya?
pantaskah? tidak! sungguh tidak!
Tapi, apakah kau hendak menyalahi kodrat?
Ya, kodrat kita sebagai manusia,
berfikir dan menjadi pemimpin.
tak salah orang yang berfikir secara kritis
tidak, sungguh tidak salah
berfikir hingga bisa menyalahkan orang dan merasa paling benar.
oh, itu sungguh tidak salah.
tapi, apakah tuhan kita tak mengetahui yang mana yang benar
dan mana yang salah? apakah hakikat keselamatan dan kasih sayang bagi seluruh alam, 
itu dengan cara menyalahkan orang lain dan merasa sombong akan kebenarannya?
dan apakah bisa dikatakan benar jika ia sendiri tak paham dan tak menjalankan hakikat itu? 
jadi, sekarang siapa yang salah?

Pemimpin pun kadang kita selalu ejek.
kita selalu hina dan kita salahkan
tak sadarkah kita, bahwa kita pun pemimpim.
apakah kita sebagai pemimpin sudah bisa adil dan amanah terhadap apa yang kita pimpin?
bukankah kita sama saja seperti mereka?
berfikir dan pemimpin
apakah kita siap?
jika saya katakan, saya belum siap tentunya.
apa yang kita fikir, di tanggug jawabkan.
apa yang kita pimpin, di tanggung jawabkan.
bukan berarti kita harus menyerah
seperti semut.
tolong menolong.
ingat,
kita bersaudara.

KANGEBEM, 2015

“Haruskah Kau Pergi?”
***
Ku tatap lekat bola mata itu, bola mata yang ingin selalu ku pandangi dan tak ingin ku lepas dari nya, mata yang penuh dengan harapan dan impian-impian dalam hidup ku yang aku berharap bisa selalu memandangi bolamata itu, embun pagi menyelimuti desa ku dan matahari enggan muncul dari tidurnya mungkin ia malu karena habis tidur, haha! Entah lah. Sangat malas sekali aku untuk membuka mata ini karena semalam aku tidur jam 1 malam untuk  menyelesaikan tugas-tugas yang belum sempat aku selesaikan tapi aku harus bangun karena jam 6 harus pergi bersekolah dan ingin bertemu dia. “terimakasih bu, teh manis dan singkongnya enak” kata ku kepada ibu “iya nak, ya udah sana berangkat takut telat, itu uang jajannya di atas lemari hanya ada 5000, cukup kan?” ucap ibu, “cukup-cukup ibu” jawab aku, akhirnya aku berangkat sekolah tak lupa mencium tangan ibu, ingin pula aku mencium tangan bapak ku tapi sekarang dia sudah tidak ada, bapak meninggal karena di tabrak lari oleh mobil. Ku lintasi sawah-sawah yang mulai menguning dan siap untuk di panen dan tak lupa ku sapa para petani yang setia merawat tanaman padi, entah lah mengapa orang kota tak pernah bersyukur terhadap nasi yang mereka makan, mereka tak pernah berfikir betapa susahnya para petani merawat padi-padi ini. Akhirnya aku sampai di sekolah di depan gerbang terpampang jelas tulisan “SMA Suka Bangsa 2” aku langsung menuju kelas ku yang berada di ujung koridor, banyak anak-anak yang saling bercerita dan bermain ria tapi aku tak peduli dengan itu semua yang aku ingin hanyalah satu yaitu MELIHATNYA. Aku masuk kelas, benar saja dia sedang duduk di kursinya yang berada di pojok ruangan sambil menulis dan mendengar lagu, sangat indah sekali di pandang karena hanya dia lah yang membuat ku bisa bersemangat untuk sekolah. ku dekati dia dan ku dekatkan wajah ku ke wajahnya “selamat pagi, lagi nulis apa? Udah sarapan belum?” Tanya ku kepadanya, “ngapain sih lo nanya-nanya gue lagi! Gue sama lo udah ga ada hubungan! Pergi sana lo jijik gua ngeliat lo! Dasar cewe murahan! Mulai sekarang kita putus!!!!”ujarnya, tak terasa mata ini panas ingin sekali mengeluarkan air kesedihan dan ku merasa hati ini seperti ada yang menyayat tanpa ampun seperti ucapannya yang tak ingin sekali ku dengar dan ku tahan itu semua karena aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak lagi menangis setelah kepergian bapak ku, “maksud kamu apa sih???”Tanya ku “hahaha, ga usah sok bego deh lo ya, sok sok ga merasa salah, gue pikir lo masih punya hati, kalo punya juga mungkin udah jadi batu!” setiap kata yang dia ucapkan semakin menyayat hati ini dan ingin sekali aku tuli dari pada harus mendengar kata-kata itu, tak biasanya ku mendengar kata-kata itu, dulu dia selalu berkata lembut dan setiap kata yang di ucapkan menambah rasa cinta di hati ini tapi sekarang? “kemarin lo di peluk sama si jaka kan? Enak ga? Haha kayanya seneng banget lo yah hahaha, o iyah di cium juga yah pipi sama jidatnya? Wow romantis banget kayanya yah, maaf yah kalo gue ga pernah ngegituin lo, mungkin selama ini yang lo harepin dari hubungan ini Cuma itu? Dan gue ga ngasih, yah akhirnya sama orang lain, gila keren banget lo jadi cewe, nyesel gue udah kenal dan punya hubungan sama lo, o iyah satu lagi selama gue punya hubungan sama lo setiap kata-kata gue itu Cuma boongan dan gue ga pernah sayang sama lo! Dan yang gue rasain selama ini Cuma sakit hati dan capek!”. Aku sudah tak peduli lagi sebarapa banyak air mata ini yang keluar dari mata ku, aku sudah tak  peduli dengan janji itu, sekarang ku hanya bisa melihat punggungnya yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Fikirkan ku kembali ke hari kemarin..
Put, habis pulang sekolah aku tunggu di belakang sekolah yah, jangan bilang ke maulana kalo kamu ke belakang sekolah, oke? Di tunggu ya J
By: jaka
“ada apa ya jaka menyuruh ku ke belakang sekolah?” gumam ku dalam hati, treennngggg, bel pulang pun akhirnya berbunyi aku langsung membereskan barang-barang ku dan pamit ke pada maulana untuk pulang terlebih dahulu biasanya aku selalu di antar oleh maulana pulang sekolah, akhirnya aku cepat-cepat lari melewati koridor dan segera menuju ke belakang sekolah tapi aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku di belakang, tapi aku tidak menghiraukannya. Akhirnya aku sampai di belakang sekolah dan ku melihat jaka yang telah menyambut ku dengan senyuman khasnya yang siapapun wanita melihatya pasti akan sesak nafas dan luluh hatinya. Jaka pun mendekatiku dan berbisik di telinagku “put, sebenernya aku tuh sayang sama kamu, aku ga suka kamu sama maulana, mending kamu sama aku, apapun yang kamu mau bakal aku kasih, mau kan kamu mutusin maulana dan menjalani hubungan dengan ku?”. Aku sontak kaget mendengar apa yang di katakan olehnya, jaka apa sih maunya? Apa ga cukup aku jadi adenya? Rasa hangat mulai menjalar kedalam tubuh ku, kenapa ini? ternyata jaka memeluk ku. Entah sudah berapa lama aku berpelukan dengan jaka waktu terasa berhenti dan seluruh tubuhku seperti banyak di kerumuni semut, belum pernah aku merasa sebahagia ini, maulana tak pernah melakukan ini kepadaku, dagu ku pun di pegangnya dan tiga kecupan manis mendarat di pipi dan kening ku, sempurnalah kebahagiaan ku ketika itu, entah setan apa yang menggerakan mulutku sampai aku mengiyakan perkataan jaka tadi, “iya jaka, aku juga sayang dan cinta ke kamu ko’ tapi aku ga bisa langsung mutusin maulana begitu aja, bisa nunggu kan? Jadi kita ga kaka-ade an lagi nih? Haha” ucap ku. “hahaha iya-iya sayang apa sih yang engga buat kamu, yah terserah kamu aja, kalo menurut aku mah gpp kalo masih kaka-adean”  jawabnya aku hanya bisa tersenyum.


-----
                        Entah sudah berapa lama aku duduk di kursi di bawah pohon mangga ini, kursi yang penuh banyak kenangan bersamanya. Canda, tawa, sedih ku lewatkan di kursi ini, walau kursi ini sudah termakan usia, tapi tetap saja kursi ini penuh banyak kenangan, aku jadi teringat masa lalu. Treeeeeengggggah sudah bel yah biarin aja lah aku udah ga peduli lagi dengan sekolah setiap yang aku lakuin selalu salah di mata guru-guru, ga guna lagi aku berusaha untuk melakukan yang terbaik toh akhirya juga salah lagi salah lagi, temen pun aku ga punya, hahaha sedih banget yah hidup ku, mending mati aja lah gini mah orang tua di rumah ga pernah akur setiap hari berantem mulu arghhhhhhhhh, lama-lama aku bisa jadi gila kalo sepeti ini, ya Allahhhhh cabut nyawaku ini. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaku “hey, ko kamu sendirian? Ngapain kamu disini? Itu udah bel ayo masuk nanti kamu di marahin bu guru!”,  “hah! Harus aku masuk kelas? Emang masih ada yang peduli sama aku? Lagian kamu siapa nya aku? Nyuruh-nyuruh aku!”, “siapa yang peduli sama kamu? Ini orang di depan kamu siapa? Kalo aku ga peduli sama kamu kenapa aku nyuruh kamu masuk kelas?”. Hemm, kejadian itu masih lekat dalam ingatan ku tak ada satu hal pun yang aku lupa, semenjak kejadian itu aku mulai dekat dengan putri, ah putri! Si perempuan murahan itu! Perempuan yang tak punya hati itu, arghhh betapa menyesalnya aku punya hubungan dengan cewek seperti itu dasar brengsek, bajingan, lonte! fikiran ku pun melayang ke hari kemarin…
            Ah aneh pikirku tidak seperti biasanya putri buru-buru seperti ini, biasanya dia yang memohon-mohon kepadaku untuk di antar pulang, jika tidak bisa dia akan pundung keesokan harinya, aneh fikirku lagi, ada yang ga beres nih kayanya, ya udah deh aku ikuti aja dia, hehehe siapa tau kan nanti aku bisa ngagetin dia terus dia meluk aku, fikir otak nakal ku. Aku  ikuti dia menyusuri koridor sekolah, ku lihat dia dari belakang sweter abu-abu yang ku berikan  padanya di hari ulang tahunnya, walau tak mahal tapi dia tetap cantik memakainya, aku sembunyi-sembunyi mengikutinya kulihat dia menengok padaku, langsung saja aku mengumpat pada dinding ruang BK, Alhamdulillah ga ketahuan fikirku, tapi aduh ko perasaan ku mulai ga tenang gini yah, soalnya ko tumben gitu yah dia ga mau di anter sama aku, biasanya dia yang paling sibuk kalo di anter sama aku. Aku ikuti terus dia dengan perasaan ku yang semakin lama semakin tidak tenang, benar ternyata dugaan ku dia menuju belakang sekolah, tapi mau ngapain yah? Akhirnya tiba lah aku di belakang sekolah, ku lihat di mengobrol dengan jaka yah aku tau jaka adalah kaka-kakaan nya yah pikir ku biarlah mungkin ada hal penting yang ingin di bicarakannya, ketika aku ingin membalikan badan ku, fuck! Itu lah kata yang pertama keluar dari mulutku, nafas ku mulai terengah-engah fikiran ku terbang melayang, darah ku menaik, jantung ku berdetak cepat sekali, apa itu? Jaka memeluk putri, ku lihat putri sangat menikmatinya bukan menghindar! selama aku menjadi pacarnya belum pernah aku memeluknya, sempurnalah kekecewaan ku dan kekesalan ku saat itu, tiga kecupan jaka berikan kepada putri, setelah kejadian yang ku lihat tadi aku langsung pergi ke parkiran sekolah dan aku bawa motor ku sekencang-kencangnya sampai ke rumah, sampai di rumah aku rebahkan diriku di kasur hingga aku tertidur.
***
Sempurnalah kebahagiaan ku saat itu setelah aku di peluk dan di cium oleh jaka,  eh tapi ini salah, aku kan punya maulana kenapa aku mengiyakan gini, tiba tiba aku langsung menampar jaka, plak! “jaka! Yang tadi aku omongin ke kamu aku tarik! Aku udah punya maulana tadi aku khilaf, aku ga jadi untuk mutusin maulana dan jadi pacar kamu, aku baru ingat kalo kamu cuma playboy! Inget, yang tadi aku omongin ke kamu aku tarik dan lupain semuanya dan kita ga usah lagi jadi kaka-adean, cinta dan sayang aku cuma buat Maulana!” aku langsung berlari menuju gerbang mencari maulana, mungkin dia masih disana ku pikir, aku terus berlari sambil menangis aku menyesali diriku sendiri, tadi aku seperti di hipnotis oleh jaka, maulana, maafkan aku :’).

----
            Malam harinya aku terbangun dari tidur ku, entah sudah berapa lama aku tertidur semenjak kejadian tadi siang, aku kesal, entah apa yang harus aku lakukan, tapi bukankah jika seperti ini aku gegabah? kenapa tidak aku telpon saja putri dan menanyakan kejadian yang tadi, tapi ah ga usah deh kayanya, biarin aja lah, ngapain gue minta penjelasan sama pelacur kaya gitu, hahaha lebih baik aku pergi ke bar, aku mau mabuk, persetan esok hari!

***
            Akhirnya aku pulang dengan berjalan kaki, tidak ada Maulana yang biasanya mengantar ku pulang ke rumah, biasanya jika aku di antar ke rumah Maulana selalu membelikan makan siang untuk aku dan ibu, setiap hari tak pernah terlewat, aku pun tersenyum mengingat hal itu. Tapi bagaimana besok aku akan ketemu Maulana? Oh iya, kan dia ga tau ini, coba deh aku telpon, *tuuuuttt tuuuuttt nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berda di luar jangkauan* haahhh! tumben hpnya mati, ya sudahlah besok di sekolah aku harus bersikap seperti ga ada sesuatu hal yang terjadi. Maulana Love You.

---
            Entah sekarang aku harus melakukan apa, mendatangi dia dan meminta maaf dan meminta penjelasan kepadanya tentang hal yang kemarin. Aku tau sekarang ia sedang bingung dengan sikap ku yang langsung seperti itu tadi pagi, ia tak tahu masalahnya apa, baiklah lebih baik aku mendatanginya. Putri, I Love You.
***
Mungkin Maulana tahu yang kemarin aku lakukan dengan Jaka di belakang sekolah,  mungkin ia mengikuti ku dan melihat aku bersama Jaka kemarin. Aku masih menangis dalam diam, tak ku tunjukan kesedihan ini, ku tak mau menangis lagi.  Aku harus dewasa,  aku harus menepati janji ku kepada bapak bahwa aku tak akan menangis lagi, sudah satu kali ku melanggarnya. Sekarang aku harus mendatangi Maulana. Harus.
---
            Aku terburu-buru, ku tabrak orang-orang yang menghalangi jalan ku. Lorong sekolah bagai tak bernyawa. Satu tujuan aku mengarah. Putri. “Woy mau, santai aja bisa kali, kaya ga punya mata aja lo, mentang-mentang anak silat lo seenaknya nabrak orang.” ucap salah satu anak yang ku tabrak. “Berisik deh lo ya, jangan banyak bacot, yang lain aja pada diem, masalah gue sama lo apa hah?” ku jawab. “yah tapi lonya kan bisa ga usah nabrak orang” ia jawab juga dengan nada tinggi. “oh, jadi lo ga terima? urusan gue sama lo nanti yah. Hahaha.” Jawab ku dengan sinis. BUKKKK! “Bangsat lo Maulana!” sambil lompat dan memukul kepala ku. “wah cari masalah lo yah?” tidak butuh waktu banyak orang-orang sudah berkumpul menyaksikan aku berkelahi dengan orang yang tak ku kenal. Akhirnya ia kalah dan ia meminta maaf kepadaku. “kalah kan lo? Jangan macem-macem sama gua! gua tau lo pasti ada yang nyuruh kan? Siapa yang nyuruh lo buat berantem sama gua?” aku bertanya kepadanya. “emmm, yaangg.. ny...uuu...rrr...uu.hh. gu..aa.. si..” ia menjawab dengan gemetar. “Gua yang nyuruh dia!” tiba-tiba seseorang memasuki kerumunan dan yang ku lihat itu adalah Jaka. “hahaha, kenapa mau? Lo kaget? Gua pengen ngehancurin hidup lo! Karena gua tau lo cinta mati sama putri kan? Lo tau? Kemarin di belakang sekolah gua sama putri, hahaha ga perlu gua kasih tau, lo pasti udah tau kan? Hal yang ga pernah lo kasih sama dia, yang sebenernya dia butuhin banget! Tapi apa? Lo ga kasih kan mau? Hahaha” hati ku panas ingin rasanya ku membunuh Jaka, ingin ku pukuli mukanya hingga babak belur, aku sudah tau certita itu, bahkan aku melihat dengan mata ku sendiri. “lo yah jakkk!!!” ku hantamkan 4 pukulan beruntun ke mukanya, jaka pun langsung jatuh tak berdaya. “mampus lo hahaha!” semua orang pun kaget sebagian ada yang kaget dan ada yang membantu jaka, dan ada juga yang menenangkan ku.

***
            Ada apa itu kumpul-kumpul pikirku, ah aku tak peduli, yang ku inginkan sekarang adalah bertemu Maulana,tapi samar-samar ku lihat yang sedang ribut itu, dan ternyata yang sedang ribut itu Maulana,  Ya Allah ada apa lagi ini???? Akhirnya ku berjalan lebih dekat lagi ke keremunan itu.

---
            Ternyata setelah pukulan yang ku berikan ke Jaka itu membuat jaka pingsan dan terkapar tak berdaya, boda amat pikirku. Sudah lah aku masih bisa berjalan ini, aku tetap akan menemui Putri, akhirnya aku pun bangkit dengan di bantu oleh orang-orang yang tadi menenangkan ku “Terimakasih!” ucapku kepada mereka “iyah sama-sama,  emang si Jaka gitu mau, kalo ada sesuatu yang dia pengenin tapi ga bisa dia dapet, dia bakal pake segala cara buat dapetin hal itu” balas mereka “Hahahaha, biarin aja lah, ga peduli gua”. Tak ingin lama-lama lagi aku berbicara dengan mereka, aku langsung saja meninggalkan mereka dan menuju hal yang menjadi tujuan ku, ada saja halangan pikirku, tapi tunggu dulu itu kan putri, kenapa ia berlari-lari gitu? Tak banyak fikir panjang aku langsung berlari mengejarnya. Walaupun kaki ku sepertinya terkilir.
***
            “Lo yah jakkk!!!” BUKKKK, empat pukulan beruntun menghantam muka Jaka, Jaka pun langsung terjatuh tak berdaya, pingsan mungkin pikirku. “mampus lo hahaha” hati ku terasa teriris melihat Maulana yang memukul Jaka sampai seperti itu. Mau, kenapa kamu setega itu kepada orang lain Walaupun ia jahat kepada kamu? Maulana yang aku tau tidak seperti itu,  Maulana yang ku tahu selalu baik kepada setiap orang. Aku pun sedikit demi sedikit menjauh dari kerumunan itu, aku tak kuasa lagi melihat Maulana yang seperti itu. Entah mengapa mata ku mulai berair, tak bisa ku tahan. Aku pun menangis, tak ingin di lihat orang menangis, aku pun berlari meyusuri koridor sekolah. Tanpa arah.
---
            “Putriiiiiiiiiii!!!! Berhentiiiii...” teriak ku, ku terus mengejar ia dengan sekuat tenaga, akhirnya tinggal beberapa langkah lagi dengan putri, aku pun langsung memeluknya dan ia akhirnya berhenti dalam pelukan ku. Pelukan pertama ku. Putri berontak, ia tak mau ku peluk. Aku tetap memeluk nya dengan keras sambil berkata “Put, ini aku Maulana, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, plis put” “kamu mau ngomong apa lagi mau??? Mau ngomong apa? Ga cukup tadi pagi kamu neghina-hina aku? Ga cukup mau? Setelah kamu ngehina-hina aku kamu berantem sama orang. Kamu bukan Mualana yang aku kenal. Bukan! Kamu benci sama aku, aku sekarang lebih benci sama kamu mau! Aku benci! Aku benci sama kamu mauuu!!!” putri menjawab sambil menangis dan berontak tak ingin ku peluk “plis, dengerin dulu penjelasan aku, kalo kamu gini, kamu sama aja kaya aku” jawab ku dengan nada mengiba. Akhirnya ku jelasakan semuanya dengan detail tanpa dusta dan tanpa sedikit pun di kurang dan di tambah, dan ia pun menjelaskan apa yang sebenanya terjadi. Ia pun meminta maaf dan aku pun meminta maaf, kami saling memintta maaf dan nangis bersama, tapi tak apa, aku masih sangat sayang kepada Putri, kapan pun dan bagaimana pun. Hari ini sangat melelahkan.
***
            Setelah kejadian di lorong itu kami pun akhirnya saling mengerti masalah masing-masing dan saling memaafkan satu sama lain. Tak tahu siapa yang benar dan salah, kami berdua salah. Kami tak berfikir dangan logis, hanya mengandalkan ego dan nafsu. Tak memecahkan masalah secara bersama, bukan mencari solusi tapi menambah masalah. Kabar baiknya juga Jaka sudah siuman dari pingsan nya ia pun langsung meminta maaf kepada Maulana karena sudah seperti itu. Hari ini sangat melehkan gumam hati ku dan mungkin hati Maulana, ah, Maulana aku sayang sama kamu.
---
            Setelah kita berdua baikan, akhirnya kita menjalankan hari-hari bedua sperti, tapi tentu saja dengan lebih mesra. Hehehe. Hari ini hari libur, dari kemarin aku menelepon Putri tak di angkat, SMS pun tak di balas, akhirnya aku pun berinisatif menemuinya di rumah. Langsung saja ku membawa motor ku menyusri jalanan yang cukup lengan, memasuki perkampungan, melewati sekolah ku, serta di suguhkan dengan persawahan yang begitu indah, entah sudah berapa kali ku melewati jalan ini, tapi ku tak pernah bosan dengan hal ini. Akhirnya aku sampai di rumah Putri, tapi ko ada yang aneh, mengapa rumahnya sepi? Kemana Ibu dan Putri, biasannya hari libur seperti ini mereka sedang beres-beres rumah atau berkebun di belakang. Karena aku penasaran, ku tanyakan saja ke tetangganya. “bu, Putri sama Ibunya kemana yah?” tanya ku kepada tetangganya “ehhh ada den Maulana, oh Ibu sama putri, kemarin sih ibu lihat mereka bawa tas-tas dan koper gitu, tapi ibu dan Putri engga ngasih tau ibu mau pergi kemana yang jelas mereka di jemput sama orang ga tau siapa orangnya ibu juga baru pertama kali liat, terus mereka naik ke mobil itu, pergi aja mereka den, ga biasanya si Ibu dan Putri ga ngasih tau kalo kemana-mana” ucap si ibu tetangga itu dengan sangat antusias. “ oh kaya gitu yah ibu, ya udah atuh saya pamit dulu yah bu. Wassalamualaikum” ujar ku dengan seulas senyuman yangg ku paksa. “oke den waalaikum....” belum selesai menjawab si ibu buru buru berkata” astaghfirullah den, ibu lupa bentar yah bentar” ibu itu setelah berkata langsung masuk ke rumahya dengan terburu-buru. Ada apa yah pikirku, sudah lah aku tunggu saja di luar. Tak lama kemudian si ibu itu keluar lagi membawa sepucuk surat. “aduh maaf yah den, inu lupa tadi, sebelum mereka berangkat, subuh-subuh Putri dateng ke rumah ibu, dia nitipin itu surat, kalo nanti Mulana dateng kasihin ke Mulana surat itu katanya” “oh gitu, ya sudah lah makasih sekali lagi yah ibu udah ngerepotin”. Entah mengapa aku sangat gugup dan gemetar membaca surat itu, aku takut, entah kabar baik ataukah kabar buruk yang ada di dalamnya. Pelan pelan aku buka surat  itu. Di depan nya tertulis. Untuk Kekasih ku tercinta, teman hati ku Maulana. Pelan-pelan ku baca surat itu, kau tahu? Setiap huruf yag tertulis kata yang terhubung dan setiap kalimat yang tersusun, perlahan lahan membuat hati ku. Menangis. Put, kenapa kamu tega???? Huaaaaaa!!!!!!!!
***
            Sekolah pun selesai, hari-hari yang ku lewati dengan Maulana semakin indah setelah kejadian itu. hari ini aku ingin pulang sendiri tak ingin bersama Maulana, entah lah aku sedang ingin sendiri. Aku meminta izin dengan Maulana walupun tadinya tidak di izinkan tapi setelah aku mengiba dan dengan satu kecupan di bibir ia pun akhirnya mengizinkan ku, “huh dasar nakal” ucapku kepada Mualana. Akhirnya benar aku pun pulang ke rumah. Langsung pulang lebih tepatnya. Tak ingin lagi kejadian seperti itu terjadi. Setelah aku sampai halaman rumah aku melihat mobil terpakir rapih di rumahku, jarang-jarang ada orang datang membawa mobil ke rumahku, akhirnya ku percepat langkahku agar cepat sampai ke rumah. Setelah di rumah aku melihat ibu sedang mengobrol santai dengan seorang laki-laki yang menurut ku berumur 45-50, aku pun bingung siapa orang itu, sepertinya aku pertama kali melihat orang itu. Akhirnya aku menghampiri mereka berdua “eh putri, sudah besar kamu yah, makin cantik ajah, hahaha. Sama kaya ibu nya yah, bapaknya ganteng, ibunya cantik. Anaknya lebih cantik, pas lah” aku hanya tersenyum, senyuman yang 100% ku paksa. Aku hanya menjawab sekenanya”hehehe terimakasih”. Aku pun langsung menuju kamar, cape sekali fikirku, aku pun memutuskan untuk tiduran dan tak lama kemudian aku pun tertidur. Pulas. “Put, putriii, bangun nak bangun sudah ashar, ayo solat dulu” suara Ibu yang membangunkan ku dari tidur sangatlah indah dan enak di dengar. Aku pun langsung bangun dan mengambil air wudhu dan melaksankan solat, di akhir solat tak lupa ku mendo’akan Ibu dan bapak serta Maulana. Setelah aku solat ashar, ibu memanggilku di ruang tengah, sepertinya ada yang harus di bicarakan, entah lah apa itu. “Put, kamu pasti ga tau kan siapa orang itu? Orang itu adalah teman baik bapak, ia sudah sangat banyak membantu untuk keluarga kita. Tadi pagi ibu membersekan kamar, ibu nemuin satu kertas yang isinya adalah wasiat dari bapak, sebenernya ibu tak mau mengatakan kepada kamu tentang ini nak, tapi ini adalah wasiat bapak” ibu ku berkata sambil menahan air mata yang spertinya sudah bisa di tahan lagi olehnya “katakan saja bu, apapun itu yang berkaitan dengan bapak, pasti putri lakuin ko’ walau itu sakit” sebenrnya dari arah pembicaraan ini aku sudah tau apa yang di katakan ibu. Dan benar saja yang ku fikirkan itu ini adalah sebuah perjodohan yang memang sepertinya sudah di  rencanakan sejak lama oleh bapak ku. kau tahu? Aku sangat bingung ku sangat mencintai Mualana lebih dari apapun, tapi di lain sisi kapan lagi aku bisa membahagiakan bapak dan ibu yang telah membesarkan ku dengan sepenuh hati dan banyak pengorbanan yang mereka lakukan kepada ku. akhirnya aku pun berkeputusan untuk menerima tawaran itu, entah itu dengan hati yang ikhlas atau tidak, kalian semua pasti tau apa yang ku rasakan. Akhirnya pada malam hari aku utarakan keputusan ku kepada ibu, kami berdua pun nangis sejadi-jadinya saling memeluk, setelah itu aku pun membereskan barang-barang ku. karena besok aku langsung di jemput dan seminggu lagi acar pernikahan akan di mulai, biarkan lah ku tinggalkan sekolah, ettapi meninggalkan Maulana dan segala ceritaku dengan nya? Itu adalah hal terberat, ku putuskan untuk menulis surat untuknya, dengan hati yang hampa, perasaan yang tak berasa, dan dengan mata yang basah karena air kesedihan ini. Aku menulis surat untuk Maulana dengan gemetar, aku jadi ingat membalas surat pertamanya ketika Maulana masih PDKT, Maulana, maafkan aku, bukan ini yang aku ingnkan, sungguh bukan ini. Kau tahu, cinta ku kepadamu tak akan termakan oleh ruang dan waktu :’)
---
            “Ku tahu bagaimana rasanya ketika kau membaca surat ini, ku tahu bagaimana ekspresimu ketika tau kita seperti ini, aku hafal setiap lekuk tubuh wajah mu, pribadimu, karaktermu. Malam ini ku bertanya, apakah tuhan adil? Apakah tuhan tak tahu apa yang di inginkan hambanya? Maulana, kekasihku tempat cintaku dimana aku ingin selalu bersamanya, tadi setelah pualng sekolah ibu kedatangan tamu yang akhirnya aku tahu itu adalah teman bapak sejak dulu dan akhirnya ibu cerita, tadi pagi ibu mebereskan kamar, ibu menemukan satu surat yang isinya adalah surat wasiat bapak dan salahsatu isi wasiat itu adalah aku harus berjodoh dengan teman bapak itu, aku bingung mau, aku sangat bingung, aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu. Tapi di satu sisi aku tak bisa menolah itu, itu adalah wasiat dari bapak, tak ingin aku durhaka kepadanya, tak pernah ku bahgiakan ibu dan bapak mungkin dengan hal ini aku bisa membahgiakan mereka, dengan berta hati aku pun mengiyakan perjodohan ini, tapi sungguh sebenernya aku tak ingin. Tapi ini sebuah wasiat mau. Ku harap kau mengerti. Ku harap kau bisa bahagia meski bukan dengan ku lagi, dan janganlah kau khawatir dengan ku. inysaallah aku akan bahagia, meskipun tidak aku selalu berusaha untuk bahgia mau. Jalani hidup mu dengan biasa, penuhi hari-hari mu dengan canda dan tawa. Jadilah maulana yang selalu aku sayang dan cinta. Jadilah panutan untuk sesama mau, Mau, entah apalagi yang harus ku katakan. Aku hanya ingin bilang, tak akan berkurang cinta ku kepada mu, kapan pun dan bagaimana pun itu. Sungguh aku sanga mencintaimu. Ingat mau, masih banyak yang lebih baik dari ku. berbahagialah, ku harap kau bisa menemukan cinta sejati mu, bukan seperti aku yang hina ini. Dan terakhir ku harap nanti kau bisa menjadi pemimpin bagi keluarga mu, bisa membimbing istri mu dan mempunyai anak yang lucu. Hahaha. Jangan pernah lupakan kenangan yang telah kita lalui berdua, entah itu sedih atau senang. Maulana, maafkan aku. I LOVE YOU :’*. Setelah ku baca isi surat itu kau tau apa yang ku lakukan? Aku menangis sejadi-jadinya mungkin aku seperti orang gila, ku tak bisa menahan lagi, aku gila, aku stres. Putri kenapa kamu harus memutuskan hal ini? Tapi entah mengapa dari lubuk hatiku yang paling dalam berakata “mau, tenang , Putri pasti akan kembali untuk mu” tapi put. Kenapa kau harus pergi...???
***
            Ku jalani hari-hari ku tanpa kehadirannya, sepi, tak berwarna, tak ada ceria. Sampai sekarang aku tak tahu siapa yang akan berjodoh dengan ku, wajah nya pun ku tak tahu, jangankan wajahnya, namanya pun ku tak tahu, tapi tak apa lah ku harus bisa nerima bagaimana pun keadaanya. Hari ini tibalah aku akan mengatahui siapa yang akan di jodohkan dengan ku, pagi-pagi sekali aku sudah di dandani dengan seorang penata rias teman bapak ku itu, setelah beres ku di rias ia(penata rias)sempat berkata ”subhanallah, cantik nya kau nak. Andai kau bisa jadi mantu ibu.” “ah ibu bisa  ajah, lebay nih, tapi makasih yah bu buat pujiannya” jawab ku dengan malu-malu. Setelah percakapan itu aku menuju kaca besar yang ada di kamar itu, ku tatapi setiap detail tubuhku, siapa ini fikirku, aku tak sangka bisa secantik dan seanggun ini, dengan balutan baju warna merah bercampur ungu, bagi ku aku bak putri, ah sudahlah aku tak ingin berlama-lama memuji diriku, akhirnya aku pun pergi dengan mobil ke rumah teman bapak ku, untuk melihat siapa yang akan menjadi jodoh ku, sebelum berangkat ibu sempat menangis, tak sangka bisa melihat anaknya seperti ini, mungkin. Akhirnya setelah sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil, aku pun sampai di tempat tujuan, di sebuah rumah mewah yang sangat besar bagaikan istana, sepertinya ini tidak bisa di panggil, ini memang sebuah istana, aku baru tahu ada rumah sebagus ini di kotaku. Setelah turun mobil aku pun di sambut dengan sangat meriah sekali. Memang adat di kotaku calon wanita datang ke rumah pria, aneh memang bagi kalian. Benar saja aku bagaikan seorang putri, aku pun di tandu di atas boneka-boneka kuda yang di pangguloleh 10 orang. Sesampai di depan rumah aku di turunkan, dan aku pun mulai berjalan perlahan memasuki rumah itu, dan ternyata orang yang akan menikah dengan ku(anak teman bapaku ku) adalah Jaka! Sontak aku kaget setengah mati, hampir saja aku pingsan seketika itu. Tak tahu ingin berbuat apa. “Hai putri, kini kau jadi miliku, hahaha.” Ucap jaka dengan nada yang tidak mengenakan “kaa..kaa.. muu. J..aa.aaa.kk.aa??? kenapa bisa.” Ucap ku dengan gugup “apapun yag aku mau bisa aku lakukan putri, aku cinta kamu. Cukup pantas bukan?.” “engga, ini engga mungkin. Aku ga mau.” “kau tak mau??? Liat apakah kamu tega membuat ibu mu sedih?” “t..aaa...ppp..iii” kau tahu jika seperti ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ku terima Jaka sebagai calon suami ku, penuh dengan rasa terpaksa, ini semua ku lakukan demi Ibu dan Bapak. Maulana, Apakah aku harus pergi...???? :’)

By: Raka Bagas Maualana/XI IIS/B.Indonesia/11.01.2015


                                                                                                      



  #KangEBEM

Kau Akan tahu,

Jika kau melihat,
Kau akan tetap Buta,
Jika kau tetap terpejam
Bukankah Tuhan memberi mata?
untuk melihat kebenaran dan keadilan.
Bukan untuk memejamkan mata
dari pada kebodohan.
Kau harus tahu,
bahwa kau itu siapa.
bahwa kau itu untuk apa.
teruslah melihat jika kau ingin tahu
teruslah terpejam jika kau ingin buta.

Kangebem,2015




Malam

Langit malam cerah, penuh dengan senyuman para bintang,
Yang menemani sang bulan.

Hembusan angin malam membawa jiwa-jiwa yang lara,
Kembali kepada hakikatnya,
Mencari sebuah ketengan dan kelembutan,
Lebih tepatnya kasih sayang.

Impian dalam angan hanya bisa terbang bersama para kelelawa-kelelawar.
Meliuk. Melekuk. Menumbusa dinginnya angin malam.
Ku hanya bisa terpaku, tertunduk bisu, memandang semuanya.

Dekat tapi jauh
Jauh tapi dekat,

Gonggongang serigala malam menemani lamunan akal dan jiwa ini.
Kembali ke masa lalu
Berangan ke masa depan

Kini aku bingung

Tanpa arah

Berjalan tertatih

Melangkah tak pasti

Bingung pada perasaan ini.

KangEBEM


Bagai Gelas Kosong Tak Berisi!


Ketika rasa itu datang,
Fikiran bagai tak bernalar, ucapan tak lagi bermakna.
Hanya tinggal sang rasa itu yang hinggap dan menuguasai setiap sendi dalam jiwa.
Jiwa, tak lagi berguna eksitensinya.
Tak lagi berharga!
Bagai gelas kosong tak berisi!
Hanya menunggu kehendak rasa mengisi apa yang ia inginkan.
Cinta kah?
Benci kah?
Sungguh ku tak berdaya tuk menjawab.
Aku hanya bisa merasakan rasa itu,
Tak pernah bisa memiliki, cukup hanya merasa dan merasa.
Jika kau merasa wahai rasa, Cintalah!
Cintalah dengan rasamu itu.
Tanpa paksa dan benci....



KangEBEM


Biarkan


Dusta ku pendam
Menjadi sebuah cerita yang mengharukan
Mengisahkan banyak rahasia kehidupan
Tak mungkin ku ungkapkan
Tak pernah bisa ku jelaskan
Biarkan rasa ini menghilang
Bersama burung yang bermigrasi ke negri sebrang
Ada, tapi biarkan ia jauh berkelana
Mencari arti hidup dalam hampa
Terjauhkan dari sifat dusta manusia....



kangEBEM


Bukan Siapa-Siapa

Memang aku bukan siapa-siapa di dunia ini,
Aku hanyalah seorang yang lemah dalam ciptaanya.
Tak tau apakah aku akan masuk ke dalam surganya?
Ataukah nerakanya?
Aku hanyalah seorang pendosa yang selalu berusaha menjadi lebih baik,
Berusaha selalu taat dan tunduk pada perintahnya.
Sujud ku.
Rukuk ku.
Hanyalah untuk-Nya, bukan untuk sanjungan palsu belaka.
Ya Rabb....
Tunjukanlah aku pada jalan yang lurus,
Limpahkanlah rahmatmu.
Berikanlah ilmu kepadaku, dan berkahilah ilmu itu.
Aku hanya bisa ikhlas atas takdir dari mu.
Dengan segala usaha dan do’a ku.
Aku berharap.
Karena aku lemah.
Dan bukan Siapa-siapa....


KangEBEM
                                                1 oktober 2014

Kelas XI ips. Mapel Sejarah

Blog ini, namanya Rembulan Dalam Gelap, banyak arti dari Rembulan Dalam Gelap. silahkan apapun yang kalian yang ingin artikan dari nama itu. Tapi, tetap saya salahseorang yang sangat suka Bulan dan Hujan...
di blog ini, insyaallah saya akan sedikit menulis tulisan-tulisan yang terlintas dalam renungan saya dan apapun itu yang bisa di tulis. Bismillahhh...

PUISI DAN SAJAK

Blog ini berisikan kumpulan puisi dan sajak dari seseorang manusia galau yang dimana kegalauan dia itu di tuangkan dalam karya-karya puisi dan sajak. Nama pena si penulis ini kangebem. semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat buat para pembaca semua. selamat bergalau-galu wkwkwk

KANGEBEM

Foto saya
My name is Raka Bagas Maulana, as known as kangebem. i'm just human being who looking for the turth about myself and i like mcdonald
Diberdayakan oleh Blogger.