“Haruskah Kau
Pergi?”
***
Ku tatap lekat bola mata itu, bola
mata yang ingin selalu ku pandangi dan tak ingin ku lepas dari nya, mata yang
penuh dengan harapan dan impian-impian dalam hidup ku yang aku berharap bisa
selalu memandangi bolamata itu, embun pagi menyelimuti desa ku dan matahari
enggan muncul dari tidurnya mungkin ia malu karena habis tidur, haha! Entah lah. Sangat malas sekali
aku untuk membuka mata ini karena semalam aku tidur jam 1 malam untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum sempat
aku selesaikan tapi aku harus bangun karena jam 6 harus pergi bersekolah dan
ingin bertemu dia. “terimakasih bu, teh manis dan singkongnya
enak” kata ku kepada ibu “iya
nak, ya udah sana berangkat takut telat, itu uang jajannya di atas lemari hanya
ada 5000, cukup kan?” ucap ibu, “cukup-cukup
ibu” jawab aku, akhirnya aku berangkat sekolah tak lupa mencium tangan
ibu, ingin pula aku mencium tangan bapak ku tapi sekarang dia sudah tidak ada,
bapak meninggal karena di tabrak lari oleh mobil. Ku lintasi sawah-sawah yang
mulai menguning dan siap untuk di panen dan tak lupa ku sapa para petani yang
setia merawat tanaman padi, entah lah mengapa orang kota tak pernah bersyukur
terhadap nasi yang mereka makan, mereka tak pernah berfikir betapa susahnya para petani
merawat padi-padi ini. Akhirnya aku sampai di sekolah di depan gerbang
terpampang jelas tulisan “SMA Suka Bangsa 2” aku langsung menuju kelas
ku yang berada di ujung koridor, banyak anak-anak yang saling bercerita dan
bermain ria tapi aku tak peduli dengan itu semua yang aku ingin hanyalah satu
yaitu MELIHATNYA. Aku masuk kelas, benar saja dia sedang duduk di kursinya yang
berada di pojok ruangan sambil menulis dan mendengar lagu, sangat indah sekali di pandang karena
hanya dia lah yang membuat ku bisa bersemangat untuk sekolah. ku dekati dia dan ku dekatkan wajah
ku ke wajahnya “selamat pagi, lagi
nulis apa? Udah sarapan belum?” Tanya ku kepadanya, “ngapain sih lo nanya-nanya gue lagi! Gue
sama lo udah ga ada hubungan! Pergi sana lo jijik gua ngeliat lo! Dasar cewe
murahan! Mulai sekarang kita putus!!!!”ujarnya, tak terasa mata ini
panas ingin sekali mengeluarkan air kesedihan dan ku merasa hati ini seperti
ada yang menyayat tanpa ampun seperti ucapannya yang tak ingin sekali ku dengar
dan ku tahan itu semua karena aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak lagi menangis setelah
kepergian bapak ku, “maksud kamu apa
sih???”Tanya ku “hahaha, ga
usah sok bego deh lo ya, sok sok ga merasa salah, gue pikir lo masih punya
hati, kalo punya juga mungkin udah jadi batu!” setiap kata yang dia
ucapkan semakin menyayat hati ini dan ingin sekali aku tuli dari pada harus
mendengar kata-kata itu, tak biasanya ku mendengar kata-kata itu, dulu dia
selalu berkata lembut dan setiap kata yang di ucapkan menambah rasa cinta di
hati ini tapi sekarang? “kemarin lo di
peluk sama si jaka kan? Enak ga? Haha kayanya seneng banget lo yah hahaha, o
iyah di cium juga yah pipi sama jidatnya? Wow romantis banget kayanya yah, maaf
yah kalo gue ga pernah ngegituin
lo, mungkin selama ini yang lo harepin dari hubungan ini Cuma itu? Dan gue ga
ngasih, yah akhirnya sama orang lain, gila keren banget lo jadi cewe, nyesel
gue udah kenal dan punya hubungan sama lo, o iyah satu lagi selama gue punya
hubungan sama lo setiap kata-kata gue itu Cuma boongan dan gue ga pernah sayang
sama lo! Dan yang gue rasain selama ini Cuma sakit hati dan capek!”. Aku sudah tak peduli lagi sebarapa
banyak air mata ini yang keluar dari mata ku, aku sudah tak peduli
dengan janji itu, sekarang ku hanya bisa melihat punggungnya yang semakin lama
semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Fikirkan ku kembali ke hari kemarin..
Put,
habis pulang sekolah aku tunggu di belakang sekolah yah, jangan bilang ke
maulana kalo kamu ke belakang sekolah, oke? Di tunggu ya J
By:
jaka
“ada
apa ya jaka menyuruh ku ke belakang sekolah?” gumam ku dalam hati, treennngggg, bel pulang pun akhirnya
berbunyi aku langsung membereskan barang-barang ku dan pamit ke pada maulana
untuk pulang terlebih dahulu biasanya aku selalu di antar oleh maulana pulang
sekolah, akhirnya aku cepat-cepat lari melewati koridor dan segera menuju ke belakang sekolah tapi aku merasa ada
seseorang yang mengikuti ku di belakang, tapi aku tidak menghiraukannya.
Akhirnya aku sampai di belakang sekolah dan ku melihat jaka yang telah
menyambut ku dengan senyuman khasnya yang siapapun wanita melihatya pasti akan
sesak nafas dan luluh hatinya. Jaka pun mendekatiku dan berbisik di telinagku “put, sebenernya aku tuh sayang sama kamu,
aku ga suka kamu sama maulana, mending kamu sama aku,
apapun yang kamu mau bakal aku kasih, mau kan kamu mutusin maulana dan menjalani
hubungan dengan ku?”. Aku sontak kaget
mendengar apa yang di katakan olehnya,
jaka apa sih maunya? Apa ga cukup aku jadi adenya? Rasa hangat mulai menjalar
kedalam tubuh ku, kenapa ini? ternyata jaka memeluk ku. Entah sudah berapa
lama aku berpelukan dengan jaka waktu terasa berhenti dan seluruh tubuhku
seperti banyak di kerumuni semut, belum pernah aku merasa sebahagia ini, maulana tak pernah melakukan ini kepadaku, dagu ku
pun di pegangnya dan tiga kecupan manis mendarat di pipi dan kening ku,
sempurnalah kebahagiaan ku ketika itu, entah setan apa yang menggerakan mulutku
sampai aku mengiyakan perkataan jaka tadi, “iya jaka, aku juga sayang dan cinta ke kamu ko’ tapi aku ga bisa
langsung mutusin maulana begitu aja, bisa nunggu kan? Jadi kita ga kaka-ade an
lagi nih? Haha” ucap ku. “hahaha
iya-iya sayang apa sih yang engga buat kamu, yah terserah kamu aja, kalo
menurut aku mah gpp kalo masih kaka-adean”
jawabnya aku hanya bisa tersenyum.
-----
Entah sudah
berapa lama aku duduk di kursi di bawah pohon mangga ini, kursi yang penuh
banyak kenangan bersamanya. Canda,
tawa, sedih ku lewatkan di kursi ini, walau kursi ini sudah termakan usia, tapi
tetap saja kursi ini penuh banyak kenangan, aku jadi teringat masa lalu.
Treeeeeenggggg “ah sudah
bel yah biarin aja lah aku udah ga peduli lagi dengan sekolah setiap yang aku
lakuin selalu salah di mata guru-guru, ga guna lagi aku berusaha untuk
melakukan yang terbaik toh akhirya juga salah lagi salah lagi, temen pun aku ga
punya, hahaha sedih banget yah hidup ku, mending mati aja lah gini mah orang
tua di rumah ga pernah akur setiap hari berantem mulu arghhhhhhhhh, lama-lama
aku bisa jadi gila kalo sepeti ini, ya Allahhhhh cabut nyawaku ini”. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaku “hey, ko kamu sendirian? Ngapain kamu disini? Itu udah bel ayo masuk
nanti kamu di marahin bu guru!”, “hah!
Harus aku masuk kelas? Emang masih ada yang peduli sama aku? Lagian kamu siapa
nya aku? Nyuruh-nyuruh aku!”, “siapa yang peduli sama kamu? Ini orang di depan
kamu siapa? Kalo aku
ga peduli sama kamu kenapa aku nyuruh kamu masuk kelas?”. Hemm, kejadian itu masih lekat dalam ingatan
ku tak ada satu hal pun yang aku lupa, semenjak
kejadian itu aku mulai dekat dengan putri, ah putri! Si perempuan murahan itu!
Perempuan yang tak punya hati itu, arghhh
betapa menyesalnya aku punya hubungan dengan cewek seperti itu dasar brengsek,
bajingan, lonte! fikiran ku pun melayang ke hari kemarin…
Ah aneh pikirku tidak seperti biasanya putri
buru-buru seperti ini, biasanya dia yang memohon-mohon kepadaku untuk di antar
pulang, jika tidak bisa dia akan pundung keesokan harinya, aneh fikirku lagi,
ada yang ga beres nih kayanya, ya udah deh aku ikuti aja dia, hehehe siapa
tau kan nanti aku bisa ngagetin dia terus dia meluk aku, fikir otak nakal ku. Aku ikuti dia menyusuri koridor sekolah, ku lihat dia dari
belakang sweter abu-abu yang ku berikan
padanya di hari ulang tahunnya, walau tak mahal tapi dia tetap cantik
memakainya, aku sembunyi-sembunyi mengikutinya kulihat dia menengok padaku, langsung saja aku mengumpat pada dinding ruang BK,
Alhamdulillah ga ketahuan
fikirku, tapi aduh ko perasaan ku mulai ga tenang gini yah, soalnya ko tumben
gitu yah dia ga mau di anter sama aku, biasanya dia yang paling sibuk kalo di
anter sama aku. Aku ikuti
terus dia dengan perasaan ku yang semakin lama semakin tidak tenang, benar
ternyata dugaan ku dia menuju belakang sekolah, tapi mau ngapain yah? Akhirnya
tiba lah aku di belakang sekolah, ku lihat di mengobrol dengan jaka yah aku tau
jaka adalah kaka-kakaan nya yah pikir ku biarlah mungkin ada hal penting yang
ingin di bicarakannya, ketika aku ingin membalikan badan ku, fuck! Itu lah kata yang pertama
keluar dari mulutku, nafas ku mulai terengah-engah fikiran ku terbang melayang,
darah ku menaik, jantung ku berdetak cepat sekali, apa itu? Jaka memeluk putri,
ku lihat putri sangat menikmatinya bukan menghindar! selama aku menjadi
pacarnya belum pernah aku memeluknya, sempurnalah kekecewaan ku dan kekesalan
ku saat itu, tiga kecupan jaka berikan kepada putri, setelah kejadian yang ku
lihat tadi aku langsung pergi ke parkiran sekolah dan aku bawa motor ku sekencang-kencangnya sampai ke rumah, sampai di rumah aku rebahkan diriku di kasur hingga aku tertidur.
***
Sempurnalah
kebahagiaan ku saat itu setelah aku di peluk dan di cium oleh jaka, eh tapi
ini salah, aku kan punya maulana kenapa aku mengiyakan gini, tiba tiba aku
langsung menampar jaka, plak! “jaka! Yang tadi aku omongin
ke kamu aku tarik! Aku udah punya maulana tadi aku khilaf, aku ga jadi untuk
mutusin maulana dan jadi pacar kamu, aku baru ingat kalo kamu cuma playboy!
Inget, yang tadi aku omongin ke kamu aku tarik dan lupain semuanya dan kita ga usah
lagi jadi kaka-adean, cinta dan sayang aku cuma
buat Maulana!” aku langsung berlari menuju
gerbang mencari maulana, mungkin dia masih disana ku pikir, aku terus berlari
sambil menangis aku menyesali diriku sendiri, tadi aku seperti di hipnotis oleh
jaka, maulana, maafkan aku :’).
----
Malam harinya aku terbangun dari tidur ku, entah sudah
berapa lama aku tertidur semenjak kejadian tadi siang, aku kesal, entah apa
yang harus aku lakukan, tapi bukankah jika seperti ini aku gegabah? kenapa
tidak aku telpon saja putri dan menanyakan kejadian yang tadi, tapi ah ga usah
deh kayanya, biarin aja lah, ngapain gue minta penjelasan sama pelacur kaya
gitu, hahaha lebih baik aku pergi ke bar, aku mau mabuk, persetan esok hari!
***
Akhirnya aku pulang dengan berjalan
kaki, tidak ada Maulana yang biasanya mengantar ku pulang ke rumah, biasanya
jika aku di antar ke rumah Maulana selalu membelikan makan siang untuk aku dan
ibu, setiap hari tak pernah terlewat, aku pun tersenyum mengingat hal itu. Tapi
bagaimana besok aku akan ketemu Maulana? Oh iya, kan dia ga tau ini, coba deh
aku telpon, *tuuuuttt tuuuuttt nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau
berda di luar jangkauan* haahhh! tumben hpnya mati, ya sudahlah besok di
sekolah aku harus bersikap seperti ga ada sesuatu hal yang terjadi. Maulana
Love You.
---
Entah sekarang aku harus melakukan
apa, mendatangi dia dan meminta maaf dan meminta penjelasan kepadanya tentang
hal yang kemarin. Aku tau sekarang ia sedang bingung dengan sikap ku yang
langsung seperti itu tadi pagi, ia tak tahu masalahnya apa, baiklah lebih baik
aku mendatanginya. Putri, I Love You.
***
Mungkin Maulana tahu yang kemarin aku lakukan dengan Jaka di belakang
sekolah, mungkin ia mengikuti ku dan
melihat aku bersama Jaka kemarin. Aku masih menangis dalam diam, tak ku
tunjukan kesedihan ini, ku tak mau menangis lagi. Aku harus dewasa, aku harus menepati janji ku kepada bapak
bahwa aku tak akan menangis lagi, sudah satu kali ku melanggarnya. Sekarang aku
harus mendatangi Maulana. Harus.
---
Aku terburu-buru, ku tabrak
orang-orang yang menghalangi jalan ku. Lorong sekolah bagai tak bernyawa. Satu
tujuan aku mengarah. Putri. “Woy mau, santai aja bisa kali, kaya ga punya mata
aja lo, mentang-mentang anak silat lo seenaknya nabrak orang.” ucap salah satu
anak yang ku tabrak. “Berisik deh lo ya, jangan banyak bacot, yang lain aja
pada diem, masalah gue sama lo apa hah?” ku jawab. “yah tapi lonya kan bisa ga
usah nabrak orang” ia jawab juga dengan nada tinggi. “oh, jadi lo ga terima?
urusan gue sama lo nanti yah. Hahaha.” Jawab ku dengan sinis. BUKKKK! “Bangsat
lo Maulana!” sambil lompat dan memukul kepala ku. “wah cari masalah lo yah?”
tidak butuh waktu banyak orang-orang sudah berkumpul menyaksikan aku berkelahi
dengan orang yang tak ku kenal. Akhirnya ia kalah dan ia meminta maaf kepadaku.
“kalah kan lo? Jangan macem-macem sama gua! gua tau lo pasti ada yang nyuruh
kan? Siapa yang nyuruh lo buat berantem sama gua?” aku bertanya kepadanya.
“emmm, yaangg.. ny...uuu...rrr...uu.hh. gu..aa.. si..” ia menjawab dengan
gemetar. “Gua yang nyuruh dia!” tiba-tiba seseorang memasuki kerumunan dan yang
ku lihat itu adalah Jaka. “hahaha, kenapa mau? Lo kaget? Gua pengen ngehancurin
hidup lo! Karena gua tau lo cinta mati sama putri kan? Lo tau? Kemarin di
belakang sekolah gua sama putri, hahaha ga perlu gua kasih tau, lo pasti udah
tau kan? Hal yang ga pernah lo kasih sama dia, yang sebenernya dia butuhin
banget! Tapi apa? Lo ga kasih kan mau? Hahaha” hati ku panas ingin rasanya ku
membunuh Jaka, ingin ku pukuli mukanya hingga babak belur, aku sudah tau
certita itu, bahkan aku melihat dengan mata ku sendiri. “lo yah jakkk!!!” ku
hantamkan 4 pukulan beruntun ke mukanya, jaka pun langsung jatuh tak berdaya.
“mampus lo hahaha!” semua orang pun kaget sebagian ada yang kaget dan ada yang
membantu jaka, dan ada juga yang menenangkan ku.
***
Ada apa itu kumpul-kumpul pikirku,
ah aku tak peduli, yang ku inginkan sekarang adalah bertemu Maulana,tapi
samar-samar ku lihat yang sedang ribut itu, dan ternyata yang sedang ribut itu
Maulana, Ya Allah ada apa lagi ini????
Akhirnya ku berjalan lebih dekat lagi ke keremunan itu.
---
Ternyata setelah pukulan yang ku
berikan ke Jaka itu membuat jaka pingsan dan terkapar tak berdaya, boda amat
pikirku. Sudah lah aku masih bisa berjalan ini, aku tetap akan menemui Putri,
akhirnya aku pun bangkit dengan di bantu oleh orang-orang yang tadi menenangkan
ku “Terimakasih!” ucapku kepada mereka “iyah sama-sama, emang si Jaka gitu mau, kalo ada sesuatu yang
dia pengenin tapi ga bisa dia dapet, dia bakal pake segala cara buat dapetin
hal itu” balas mereka “Hahahaha, biarin aja lah, ga peduli gua”. Tak ingin
lama-lama lagi aku berbicara dengan mereka, aku langsung saja meninggalkan
mereka dan menuju hal yang menjadi tujuan ku, ada saja halangan pikirku, tapi
tunggu dulu itu kan putri, kenapa ia berlari-lari gitu? Tak banyak fikir
panjang aku langsung berlari mengejarnya. Walaupun kaki ku sepertinya terkilir.
***
“Lo yah jakkk!!!” BUKKKK, empat
pukulan beruntun menghantam muka Jaka, Jaka pun langsung terjatuh tak berdaya,
pingsan mungkin pikirku. “mampus lo hahaha” hati ku terasa teriris melihat
Maulana yang memukul Jaka sampai seperti itu. Mau, kenapa kamu setega itu
kepada orang lain Walaupun ia jahat kepada kamu? Maulana yang aku tau tidak
seperti itu, Maulana yang ku tahu selalu
baik kepada setiap orang. Aku pun sedikit demi sedikit menjauh dari kerumunan
itu, aku tak kuasa lagi melihat Maulana yang seperti itu. Entah mengapa mata ku
mulai berair, tak bisa ku tahan. Aku pun menangis, tak ingin di lihat orang
menangis, aku pun berlari meyusuri koridor sekolah. Tanpa arah.
---
“Putriiiiiiiiiii!!!!
Berhentiiiii...” teriak ku, ku terus mengejar ia dengan sekuat tenaga, akhirnya
tinggal beberapa langkah lagi dengan putri, aku pun langsung memeluknya dan ia
akhirnya berhenti dalam pelukan ku. Pelukan pertama ku. Putri berontak, ia tak
mau ku peluk. Aku tetap memeluk nya dengan keras sambil berkata “Put, ini aku
Maulana, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, plis put” “kamu mau ngomong apa
lagi mau??? Mau ngomong apa? Ga cukup tadi pagi kamu neghina-hina aku? Ga cukup
mau? Setelah kamu ngehina-hina aku kamu berantem sama orang. Kamu bukan Mualana
yang aku kenal. Bukan! Kamu benci sama aku, aku sekarang lebih benci sama kamu
mau! Aku benci! Aku benci sama kamu mauuu!!!” putri menjawab sambil menangis
dan berontak tak ingin ku peluk “plis, dengerin dulu penjelasan aku, kalo kamu
gini, kamu sama aja kaya aku” jawab ku dengan nada mengiba. Akhirnya ku
jelasakan semuanya dengan detail tanpa dusta dan tanpa sedikit pun di kurang
dan di tambah, dan ia pun menjelaskan apa yang sebenanya terjadi. Ia pun
meminta maaf dan aku pun meminta maaf, kami saling memintta maaf dan nangis
bersama, tapi tak apa, aku masih sangat sayang kepada Putri, kapan pun dan
bagaimana pun. Hari ini sangat melelahkan.
***
Setelah kejadian di lorong itu kami
pun akhirnya saling mengerti masalah masing-masing dan saling memaafkan satu
sama lain. Tak tahu siapa yang benar dan salah, kami berdua salah. Kami tak
berfikir dangan logis, hanya mengandalkan ego dan nafsu. Tak memecahkan masalah
secara bersama, bukan mencari solusi tapi menambah masalah. Kabar baiknya juga
Jaka sudah siuman dari pingsan nya ia pun langsung meminta maaf kepada Maulana
karena sudah seperti itu. Hari ini sangat melehkan gumam hati ku dan mungkin
hati Maulana, ah, Maulana aku sayang sama kamu.
---
Setelah kita berdua baikan, akhirnya
kita menjalankan hari-hari bedua sperti, tapi tentu saja dengan lebih mesra.
Hehehe. Hari ini hari libur, dari kemarin aku menelepon Putri tak di angkat,
SMS pun tak di balas, akhirnya aku pun berinisatif menemuinya di rumah.
Langsung saja ku membawa motor ku menyusri jalanan yang cukup lengan, memasuki
perkampungan, melewati sekolah ku, serta di suguhkan dengan persawahan yang
begitu indah, entah sudah berapa kali ku melewati jalan ini, tapi ku tak pernah
bosan dengan hal ini. Akhirnya aku sampai di rumah Putri, tapi ko ada yang
aneh, mengapa rumahnya sepi? Kemana Ibu dan Putri, biasannya hari libur seperti
ini mereka sedang beres-beres rumah atau berkebun di belakang. Karena aku
penasaran, ku tanyakan saja ke tetangganya. “bu, Putri sama Ibunya kemana yah?”
tanya ku kepada tetangganya “ehhh ada den Maulana, oh Ibu sama putri, kemarin
sih ibu lihat mereka bawa tas-tas dan koper gitu, tapi ibu dan Putri engga
ngasih tau ibu mau pergi kemana yang jelas mereka di jemput sama orang ga tau
siapa orangnya ibu juga baru pertama kali liat, terus mereka naik ke mobil itu,
pergi aja mereka den, ga biasanya si Ibu dan Putri ga ngasih tau kalo
kemana-mana” ucap si ibu tetangga itu dengan sangat antusias. “ oh kaya gitu
yah ibu, ya udah atuh saya pamit dulu yah bu. Wassalamualaikum” ujar ku dengan
seulas senyuman yangg ku paksa. “oke den waalaikum....” belum selesai menjawab
si ibu buru buru berkata” astaghfirullah den, ibu lupa bentar yah bentar” ibu
itu setelah berkata langsung masuk ke rumahya dengan terburu-buru. Ada apa yah
pikirku, sudah lah aku tunggu saja di luar. Tak lama kemudian si ibu itu keluar
lagi membawa sepucuk surat. “aduh maaf yah den, inu lupa tadi, sebelum mereka
berangkat, subuh-subuh Putri dateng ke rumah ibu, dia nitipin itu surat, kalo
nanti Mulana dateng kasihin ke Mulana surat itu katanya” “oh gitu, ya sudah lah
makasih sekali lagi yah ibu udah ngerepotin”. Entah mengapa aku sangat gugup
dan gemetar membaca surat itu, aku takut, entah kabar baik ataukah kabar buruk
yang ada di dalamnya. Pelan pelan aku buka surat itu. Di depan nya tertulis. Untuk Kekasih ku tercinta, teman hati ku
Maulana. Pelan-pelan ku baca surat itu, kau tahu? Setiap huruf yag tertulis
kata yang terhubung dan setiap kalimat yang tersusun, perlahan lahan membuat
hati ku. Menangis. Put, kenapa kamu tega???? Huaaaaaa!!!!!!!!
***
Sekolah pun selesai, hari-hari yang
ku lewati dengan Maulana semakin indah setelah kejadian itu. hari ini aku ingin
pulang sendiri tak ingin bersama Maulana, entah lah aku sedang ingin sendiri.
Aku meminta izin dengan Maulana walupun tadinya tidak di izinkan tapi setelah
aku mengiba dan dengan satu kecupan di bibir ia pun akhirnya mengizinkan ku,
“huh dasar nakal” ucapku kepada Mualana. Akhirnya benar aku pun pulang ke rumah.
Langsung pulang lebih tepatnya. Tak ingin lagi kejadian seperti itu terjadi.
Setelah aku sampai halaman rumah aku melihat mobil terpakir rapih di rumahku,
jarang-jarang ada orang datang membawa mobil ke rumahku, akhirnya ku percepat
langkahku agar cepat sampai ke rumah. Setelah di rumah aku melihat ibu sedang
mengobrol santai dengan seorang laki-laki yang menurut ku berumur 45-50, aku
pun bingung siapa orang itu, sepertinya aku pertama kali melihat orang itu.
Akhirnya aku menghampiri mereka berdua “eh putri, sudah besar kamu yah, makin
cantik ajah, hahaha. Sama kaya ibu nya yah, bapaknya ganteng, ibunya cantik.
Anaknya lebih cantik, pas lah” aku hanya tersenyum, senyuman yang 100% ku
paksa. Aku hanya menjawab sekenanya”hehehe terimakasih”. Aku pun langsung menuju
kamar, cape sekali fikirku, aku pun memutuskan untuk tiduran dan tak lama
kemudian aku pun tertidur. Pulas. “Put, putriii, bangun nak bangun sudah ashar,
ayo solat dulu” suara Ibu yang membangunkan ku dari tidur sangatlah indah dan
enak di dengar. Aku pun langsung bangun dan mengambil air wudhu dan melaksankan
solat, di akhir solat tak lupa ku mendo’akan Ibu dan bapak serta Maulana.
Setelah aku solat ashar, ibu memanggilku di ruang tengah, sepertinya ada yang
harus di bicarakan, entah lah apa itu. “Put, kamu pasti ga tau kan siapa orang
itu? Orang itu adalah teman baik bapak, ia sudah sangat banyak membantu untuk
keluarga kita. Tadi pagi ibu membersekan kamar, ibu nemuin satu kertas yang
isinya adalah wasiat dari bapak, sebenernya ibu tak mau mengatakan kepada kamu
tentang ini nak, tapi ini adalah wasiat bapak” ibu ku berkata sambil menahan
air mata yang spertinya sudah bisa di tahan lagi olehnya “katakan saja bu,
apapun itu yang berkaitan dengan bapak, pasti putri lakuin ko’ walau itu sakit”
sebenrnya dari arah pembicaraan ini aku sudah tau apa yang di katakan ibu. Dan
benar saja yang ku fikirkan itu ini adalah sebuah perjodohan yang memang
sepertinya sudah di rencanakan sejak
lama oleh bapak ku. kau tahu? Aku sangat bingung ku sangat mencintai Mualana
lebih dari apapun, tapi di lain sisi kapan lagi aku bisa membahagiakan bapak
dan ibu yang telah membesarkan ku dengan sepenuh hati dan banyak pengorbanan
yang mereka lakukan kepada ku. akhirnya aku pun berkeputusan untuk menerima
tawaran itu, entah itu dengan hati yang ikhlas atau tidak, kalian semua pasti
tau apa yang ku rasakan. Akhirnya pada malam hari aku utarakan keputusan ku
kepada ibu, kami berdua pun nangis sejadi-jadinya saling memeluk, setelah itu
aku pun membereskan barang-barang ku. karena besok aku langsung di jemput dan
seminggu lagi acar pernikahan akan di mulai, biarkan lah ku tinggalkan sekolah,
ettapi meninggalkan Maulana dan segala ceritaku dengan nya? Itu adalah hal
terberat, ku putuskan untuk menulis surat untuknya, dengan hati yang hampa,
perasaan yang tak berasa, dan dengan mata yang basah karena air kesedihan ini.
Aku menulis surat untuk Maulana dengan gemetar, aku jadi ingat membalas surat
pertamanya ketika Maulana masih PDKT, Maulana, maafkan aku, bukan ini yang aku
ingnkan, sungguh bukan ini. Kau tahu, cinta ku kepadamu tak akan termakan oleh
ruang dan waktu :’)
---
“Ku
tahu bagaimana rasanya ketika kau membaca surat ini, ku tahu bagaimana
ekspresimu ketika tau kita seperti ini, aku hafal setiap lekuk tubuh wajah mu,
pribadimu, karaktermu. Malam ini ku bertanya, apakah tuhan adil? Apakah tuhan
tak tahu apa yang di inginkan hambanya? Maulana, kekasihku tempat cintaku
dimana aku ingin selalu bersamanya, tadi setelah pualng sekolah ibu kedatangan
tamu yang akhirnya aku tahu itu adalah teman bapak sejak dulu dan akhirnya ibu
cerita, tadi pagi ibu mebereskan kamar, ibu menemukan satu surat yang isinya
adalah surat wasiat bapak dan salahsatu isi wasiat itu adalah aku harus
berjodoh dengan teman bapak itu, aku bingung mau, aku sangat bingung, aku
sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu. Tapi di satu sisi aku tak
bisa menolah itu, itu adalah wasiat dari bapak, tak ingin aku durhaka
kepadanya, tak pernah ku bahgiakan ibu dan bapak mungkin dengan hal ini aku
bisa membahgiakan mereka, dengan berta hati aku pun mengiyakan perjodohan ini,
tapi sungguh sebenernya aku tak ingin. Tapi ini sebuah wasiat mau. Ku harap kau
mengerti. Ku harap kau bisa bahagia meski bukan dengan ku lagi, dan janganlah
kau khawatir dengan ku. inysaallah aku akan bahagia, meskipun tidak aku selalu
berusaha untuk bahgia mau. Jalani hidup mu dengan biasa, penuhi hari-hari mu
dengan canda dan tawa. Jadilah maulana yang selalu aku sayang dan cinta. Jadilah
panutan untuk sesama mau, Mau, entah apalagi yang harus ku katakan. Aku hanya
ingin bilang, tak akan berkurang cinta ku kepada mu, kapan pun dan bagaimana
pun itu. Sungguh aku sanga mencintaimu. Ingat mau, masih banyak yang lebih baik
dari ku. berbahagialah, ku harap kau bisa menemukan cinta sejati mu, bukan
seperti aku yang hina ini. Dan terakhir ku harap nanti kau bisa menjadi
pemimpin bagi keluarga mu, bisa membimbing istri mu dan mempunyai anak yang
lucu. Hahaha. Jangan pernah lupakan kenangan yang telah kita lalui berdua,
entah itu sedih atau senang. Maulana, maafkan aku. I LOVE YOU :’*. Setelah
ku baca isi surat itu kau tau apa yang ku lakukan? Aku menangis sejadi-jadinya
mungkin aku seperti orang gila, ku tak bisa menahan lagi, aku gila, aku stres.
Putri kenapa kamu harus memutuskan hal ini? Tapi entah mengapa dari lubuk
hatiku yang paling dalam berakata “mau, tenang , Putri pasti akan kembali untuk
mu” tapi put. Kenapa kau harus pergi...???
***
Ku jalani hari-hari ku tanpa
kehadirannya, sepi, tak berwarna, tak ada ceria. Sampai sekarang aku tak tahu
siapa yang akan berjodoh dengan ku, wajah nya pun ku tak tahu, jangankan
wajahnya, namanya pun ku tak tahu, tapi tak apa lah ku harus bisa nerima bagaimana
pun keadaanya. Hari ini tibalah aku akan mengatahui siapa yang akan di jodohkan
dengan ku, pagi-pagi sekali aku sudah di dandani dengan seorang penata rias
teman bapak ku itu, setelah beres ku di rias ia(penata rias)sempat berkata
”subhanallah, cantik nya kau nak. Andai kau bisa jadi mantu ibu.” “ah ibu
bisa ajah, lebay nih, tapi makasih yah
bu buat pujiannya” jawab ku dengan malu-malu. Setelah percakapan itu aku menuju
kaca besar yang ada di kamar itu, ku tatapi setiap detail tubuhku, siapa ini
fikirku, aku tak sangka bisa secantik dan seanggun ini, dengan balutan baju
warna merah bercampur ungu, bagi ku aku bak putri, ah sudahlah aku tak ingin
berlama-lama memuji diriku, akhirnya aku pun pergi dengan mobil ke rumah teman
bapak ku, untuk melihat siapa yang akan menjadi jodoh ku, sebelum berangkat ibu
sempat menangis, tak sangka bisa melihat anaknya seperti ini, mungkin. Akhirnya
setelah sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil, aku pun sampai di tempat
tujuan, di sebuah rumah mewah yang sangat besar bagaikan istana, sepertinya ini
tidak bisa di panggil, ini memang sebuah istana, aku baru tahu ada rumah
sebagus ini di kotaku. Setelah turun mobil aku pun di sambut dengan sangat
meriah sekali. Memang adat di kotaku calon wanita datang ke rumah pria, aneh
memang bagi kalian. Benar saja aku bagaikan seorang putri, aku pun di tandu di
atas boneka-boneka kuda yang di pangguloleh 10 orang. Sesampai di depan rumah
aku di turunkan, dan aku pun mulai berjalan perlahan memasuki rumah itu, dan
ternyata orang yang akan menikah dengan ku(anak teman bapaku ku) adalah Jaka!
Sontak aku kaget setengah mati, hampir saja aku pingsan seketika itu. Tak tahu
ingin berbuat apa. “Hai putri, kini kau jadi miliku, hahaha.” Ucap jaka dengan
nada yang tidak mengenakan “kaa..kaa.. muu. J..aa.aaa.kk.aa??? kenapa bisa.”
Ucap ku dengan gugup “apapun yag aku mau bisa aku lakukan putri, aku cinta
kamu. Cukup pantas bukan?.” “engga, ini engga mungkin. Aku ga mau.” “kau tak
mau??? Liat apakah kamu tega membuat ibu mu sedih?” “t..aaa...ppp..iii” kau
tahu jika seperti ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ku terima Jaka
sebagai calon suami ku, penuh dengan rasa terpaksa, ini semua ku lakukan demi
Ibu dan Bapak. Maulana, Apakah aku harus pergi...???? :’)
By: Raka Bagas Maualana/XI IIS/B.Indonesia/11.01.2015
#KangEBEM

0 komentar:
Posting Komentar